BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH TAMIANG– Lumpur dan air banjir yang sempat menenggelamkan fasilitas produksi belum sepenuhnya menjadi cerita yang dilupakan di Aceh Tamiang. Namun, dari kondisi itulah para pekerja Pertamina EP Rantau Field justru dituntut bergerak lebih cepat.
Hanya sekitar empat bulan setelah banjir besar menghantam wilayah operasi pada akhir November 2025, kegiatan produksi yang sempat terhenti mulai kembali berjalan. Kini, bukan hanya memulihkan fasilitas yang rusak, Pertamina EP Rantau Field juga sudah menajak atau melakukan well spud terhadap lima sumur baru.
Langkah itu menjadi penanda bahwa pemulihan tidak berhenti pada menghidupkan kembali fasilitas yang terdampak. Di tengah proses tersebut, perusahaan sekaligus mulai memburu cadangan migas baru untuk menjaga keberlanjutan produksi.
Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, mengatakan percepatan pemulihan dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan keselamatan pekerja dan keandalan fasilitas.
“Kendati masih dalam situasi pemulihan pascabanjir, perusahaan melakukan pengeboran sumur untuk menemukan cadangan migas baru dan mempertahankan produksi migas. Tajak sumur baru ini sangat penting bagi penyediaan energi nasional,” ujarnya.
Menurut Tomi, produksi minyak Pertamina EP Rantau Field kini kembali stabil di kisaran 1.700 barel per hari. Bahkan, produksi sempat menyentuh sekitar 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026, atau lebih tinggi dibandingkan kondisi sebelum banjir.
Angka tersebut menjadi gambaran bagaimana lapangan yang sempat berhenti total perlahan kembali berproduksi. Prosesnya tidak sederhana karena banjir bukan hanya merendam sumur dan fasilitas produksi, tetapi juga memutus akses serta pasokan listrik yang menjadi bagian penting dalam operasional lapangan.
Banjir besar yang menerjang Aceh Tamiang pada akhir November 2025 memang memberikan pukulan berat terhadap operasi migas di kawasan tersebut. Pada 27 November 2025, fasilitas produksi Pertamina EP Rantau dilaporkan terendam hingga sekitar tiga meter dan kegiatan produksi harus dihentikan sementara.
Dalam kondisi seperti itu, memulihkan produksi bukan sekadar soal membersihkan lumpur. Ada fasilitas yang harus diperiksa, sistem kelistrikan yang harus dipulihkan, akses yang harus dibuka kembali, hingga sumur-sumur produksi yang harus direaktivasi secara bertahap.
Pertamina sendiri membagi proses pemulihan menjadi empat fase, yakni emergency, reactivation, recovery, dan sustainability. Tahapan tersebut mencakup penanganan keselamatan, pemulihan fasilitas, pengaktifan kembali sumur produksi hingga penguatan sistem operasi untuk jangka panjang.
Pada fase awal, kebutuhan paling mendasar menjadi prioritas. Makanan, air bersih, kesehatan dan listrik harus dipastikan tersedia sebelum tim dapat kembali mengaktifkan fasilitas produksi.
Bagi pekerja di lapangan, persoalan listrik menjadi salah satu pekerjaan paling krusial. Pembangkit listrik di Rantau menggunakan gas dari sumur yang telah direaktivasi. Ketika banjir merusak High Pressure Compressor Station (HPCS), sistem yang selama ini menjadi bagian penting dalam penyediaan gas untuk pembangkit ikut terganggu.
Di titik inilah tim memilih jalan berbeda.
Alih-alih menunggu HPCS kembali beroperasi, dilakukan analisis untuk mencari sistem alternatif. Hasilnya, SP-5 dengan sejumlah modifikasi dapat mengambil alih fungsi HPCS untuk membantu menghidupkan kembali sistem kelistrikan. Pasokan gas kemudian juga didukung dari SP-5 dan SP-1.
“Setiap ujian tentunya ada hikmah. Salah satu hikmahnya adalah kami melakukan simplifikasi di beberapa fasilitas. Ketika listrik sudah teratasi, perlahan produksi yang sebelumnya nol barel mulai bergerak naik,” kata Tomi.
Kisah pemulihan itu sejalan dengan catatan Pertamina Hulu Indonesia mengenai kesiapsiagaan Pertamina EP Rantau menghadapi bencana. Rantau Field sebelumnya telah memiliki langkah mitigasi seperti pemetaan wilayah rawan, sistem peringatan dini, posko siaga, jalur evakuasi, hingga rencana pemulihan sarana vital.
Dampak banjir juga tidak hanya dirasakan perusahaan. Masyarakat di sekitar wilayah operasi ikut terdampak. Pada awal 2026, Pertamina EP Rantau Field bahkan masih menyalurkan air bersih kepada desa-desa di sekitar sumur minyak karena sebagian wilayah mengalami persoalan air bersih setelah banjir dan memasuki musim kemarau. Air tersebut didistribusikan menggunakan dua mobil tangki berkapasitas masing-masing 12.000 liter.
Karena itu, ketika fasilitas produksi mulai kembali hidup, pekerjaan pemulihan juga berjalan berdampingan dengan dukungan terhadap masyarakat sekitar.
Tomi mengatakan, salah satu kekuatan terbesar dalam mempercepat pemulihan adalah dukungan dari pekerja Pertamina dari berbagai wilayah operasi. Personel dari Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut membantu memperbaiki fasilitas yang terdampak.
“Pulih lebih cepat ini bisa terwujud karena ada bantuan personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina. Seperti Pangkalan Susu, Jambi, Lirik, Ramba dan sejumlah lapangan lainnya ikut terlibat aktif dalam pemulihan fasilitas Rantau Field. Pertamina ini satu keluarga, jika satu tertimpa musibah yang lain datang membantu,” katanya.
Semangat tersebut terlihat pula dalam kegiatan sosial pascabanjir. Pada Januari 2026, PEP Rantau Field masih menjalankan bantuan pemulihan fasilitas pendidikan dan keagamaan di Aceh Tamiang. Field Manager Tomi Wahyu Alimsyah ketika itu menegaskan bahwa penanganan bencana harus diterjemahkan menjadi langkah nyata dan terukur, meskipun perusahaan sendiri turut terdampak.
Kini, setelah fase pemulihan berjalan, pekerjaan beralih ke tantangan berikutnya: memastikan lapangan tetap produktif.
Lima sumur baru yang ditajak menjadi bagian penting dari upaya tersebut. Dua di antaranya, RNT DZ-51 dan RNT DZ-52, berada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Kedua sumur itu dibor menggunakan Rig APS-752 berkapasitas 550 HP. RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 MMD, sedangkan RNT DZ-52 mencapai 1.037 MMD.
Tiga sumur lainnya, yakni RNT DZ-11, RNT DZ-23A dan RNT DZ-33, berada di Kampung Paya Meta, Kecamatan Karang Baru.
Untuk RNT DZ-11, pengeboran menggunakan Rig TMMJ-12 berkapasitas 550 HP dengan kedalaman akhir 1.132 MMD. Sementara RNT DZ-23A dan RNT DZ-33 masih dalam proses pengeboran.
Bagi Aceh Tamiang, keberadaan kegiatan pengeboran tersebut bukan hanya berbicara mengenai produksi perusahaan. Aktivitas hulu migas juga berkaitan dengan keberlanjutan pasokan energi dan aktivitas ekonomi di sekitar wilayah operasi.
Rantau sendiri bukan lapangan baru. Lapangan ini telah menjadi bagian dari sejarah produksi migas di Aceh Tamiang selama puluhan tahun. Data produksi pada periode sebelumnya menunjukkan Rantau pernah menghasilkan lebih dari 3.000 barel minyak per hari.
Karakter lapangan yang sudah matang membuat upaya mempertahankan produksi membutuhkan kombinasi antara pemeliharaan sumur lama, reaktivasi, perbaikan fasilitas, serta pengeboran sumur baru.
Itulah sebabnya, tajak lima sumur di tengah pemulihan pascabencana memiliki makna lebih besar dari sekadar kegiatan pengeboran. Di balik rig yang kembali berdiri, ada upaya untuk menjaga agar roda produksi tetap bergerak setelah sebelumnya dipaksa berhenti oleh bencana.
Keandalan pekerja juga menjadi perhatian. Tomi memastikan pekerja yang berada di atas rig telah mengikuti pelatihan wajib Health, Safety, Security and Environment (HSSE), termasuk Basic HSSE Training, Corporate Life Saving Rules (CLSR), Pertamina Well Control (PETROL), serta sertifikasi keahlian yang dibutuhkan dalam pekerjaan pengeboran.
Seluruh kegiatan tersebut, kata dia, tetap dijalankan dengan prinsip Environmental, Social and Governance (ESG). Kolaborasi dengan kontraktor penyedia jasa rig dan dukungan SKK Migas juga menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan sekaligus keberlanjutan operasi.
Percepatan pemulihan Rantau Field sebelumnya mendapat apresiasi dari SKK Migas. Pada 8 April 2026, SKK Migas memberikan penghargaan kepada Pertamina EP Rantau Field dan Pangkalan Susu Field atas keberhasilan mempercepat pemulihan produksi setelah banjir besar. Laporan mengenai penghargaan tersebut menyebut pemulihan berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkiraan awal.
Jika melihat kembali kondisi beberapa bulan sebelumnya, capaian tersebut memang bukan pekerjaan ringan. Banjir membawa air setinggi sekitar 4 hingga 4,5 meter dan meninggalkan endapan lumpur sekitar 30 hingga 80 sentimeter di sejumlah fasilitas, perkantoran dan permukiman pekerja.
Kini, lima rig dan sumur baru menjadi bagian dari babak berikutnya.
Bukan lagi sekadar bagaimana Rantau Field bisa bangkit dari banjir, tetapi bagaimana lapangan tersebut mampu menjaga produksi, menemukan cadangan baru dan tetap menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional.
Di tengah tuntutan produksi yang terus berjalan, para pekerja migas di Rantau harus bekerja dengan dua kepentingan sekaligus: memulihkan apa yang rusak dan menyiapkan apa yang akan datang.
Lima sumur yang ditajak menjadi salah satu jawabannya.








