Wali Kota Bima Cek Revitalisasi Tiga Sekolah, Pesan Tegas: Jangan Kejar Cepat, Utamakan Kualitas

459 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID, KOTA BIMA- Ada hal yang ingin dipastikan Wali Kota Bima H. A. Rahman H. Abidin ketika turun langsung ke tiga sekolah yang sedang direvitalisasi, Rabu (7/10/2026). Bukan sekadar melihat seberapa jauh bangunan berdiri, tetapi memastikan ruang yang nantinya ditempati anak-anak Kota Bima benar-benar aman, layak dan dibangun dengan kualitas yang baik.

Didampingi Plt. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Bima Abdul Haris Kurniawan, S.IP., M.M., Wali Kota meninjau langsung pekerjaan revitalisasi di SMPN 6 Kota Bima, SDN 61 Karara dan SMPN 5 Kota Bima. Peninjauan dilakukan dengan melihat perkembangan pekerjaan sekaligus berdialog dengan pihak pelaksana mengenai kondisi pembangunan di lapangan.

Advertisement

Kunjungan lapangan itu menjadi bagian dari pengawasan pemerintah daerah agar pekerjaan tidak berhenti pada pemenuhan target fisik. Perencanaan, spesifikasi teknis dan standar mutu menjadi hal yang ikut diperhatikan selama proses pembangunan berlangsung.

“Membangun sekolah bukan saja membangun gedung. Kita sedang membangun tempat di mana cita-cita anak-anak Kota Bima tumbuh dan masa depan mereka dipersiapkan. Karena itu, kualitas setiap pembangunan harus dijaga sejak proses pengerjaan hingga nantinya digunakan oleh para siswa.”

Pesan tersebut menggambarkan arah revitalisasi yang diinginkan Pemkot Bima. Gedung sekolah yang baru atau diperbaiki bukan sekadar hasil pekerjaan konstruksi, melainkan fasilitas yang akan digunakan setiap hari oleh siswa dan guru.

Karena itu, menurut Wali Kota, pembangunan fasilitas pendidikan harus dilihat sebagai investasi jangka panjang. Kesalahan dalam pengerjaan yang mungkin terlihat kecil saat proses pembangunan dapat berdampak ketika bangunan sudah digunakan dalam waktu lama.

“Jangan sampai hanya mengejar selesai. Yang paling penting adalah kualitasnya. Setiap pekerjaan harus benar-benar diperhatikan agar hasil pembangunan dapat bertahan dan memberikan manfaat bagi anak-anak kita,” tegasnya.

Pengawasan Tak Hanya dari Meja Kantor

Peninjauan langsung juga memperlihatkan bahwa pengawasan pembangunan sekolah tidak cukup hanya mengandalkan laporan administrasi. Pemerintah perlu melihat kondisi sebenarnya di lapangan, termasuk berdiskusi dengan pelaksana, pengawas dan pihak sekolah.

Plt. Kepala Dikpora Kota Bima Abdul Haris Kurniawan menyebut monitoring di tiga lokasi tersebut juga melibatkan jajaran bidang terkait, kepala sekolah, pengawas, pelaksana proyek, guru dan pekerja bangunan. Dalam kesempatan itu, Wali Kota meminta pekerjaan revitalisasi menghasilkan bangunan yang kokoh dan sesuai kebutuhan sarana pendidikan.

Selain mutu fisik, ketertiban administrasi proyek turut menjadi perhatian. Dokumen pendukung pekerjaan diminta tetap rapi dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai ketentuan yang berlaku.

Ada pula persoalan yang tak kalah penting selama pekerjaan berlangsung: keselamatan siswa. Material sisa pembangunan harus segera dirapikan agar tidak menjadi risiko bagi anak-anak yang tetap menjalankan aktivitas belajar di lingkungan sekolah.

Revitalisasi Mulai Mengubah Wajah Sekolah

Di SMPN 6 Kota Bima, misalnya, perkembangan pekerjaan sebelumnya sudah terlihat cukup signifikan. Pada akhir September, pekerjaan telah memasuki tahap pemasangan bagian atap bangunan. Pihak sekolah juga terus memantau pelaksanaan pekerjaan agar berjalan sesuai tahapan yang telah direncanakan.

Sementara di SDN 61 Karara, monitoring terhadap program revitalisasi juga telah dilakukan oleh jajaran Dikpora sejak September. Pengawasan tersebut mencakup pengecekan perkembangan pekerjaan dan koordinasi dengan pihak sekolah, perencana atau pengawas serta panitia pelaksana.

Rangkaian pengawasan itu menunjukkan bahwa revitalisasi sekolah di Kota Bima tidak hanya berlangsung ketika pimpinan daerah datang berkunjung. Ada proses monitoring yang berjalan sejak pekerjaan dimulai hingga tahap pelaksanaannya.

Bagi sekolah, perubahan fisik tentu menjadi sesuatu yang ditunggu. Ruang belajar yang lebih baik berarti anak-anak memiliki tempat yang lebih nyaman untuk membaca, berdiskusi, bertanya kepada guru dan mengejar cita-cita mereka.

Di SMPN 6 Kota Bima, pihak sekolah sebelumnya juga menyampaikan harapan agar revitalisasi memberikan fasilitas yang lebih representatif sekaligus mendukung kenyamanan dan keamanan kegiatan belajar mengajar.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan revitalisasi bukan hanya ketika proyek dinyatakan selesai. Yang lebih penting adalah bagaimana bangunan tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh siswa dan guru setelah digunakan.

Sebab, sekolah yang baik bukan hanya soal tembok yang kokoh atau atap yang baru. Di dalamnya ada anak-anak yang sedang menyiapkan masa depan.

Dan itulah alasan Wali Kota Bima meminta agar pembangunan tiga sekolah tersebut tidak dikerjakan dengan pola sekadar mengejar selesai. Kualitas, keamanan dan manfaat jangka panjang harus tetap menjadi ukuran utama.

Advertisement