SUMATERA SELATAN, Buanaindonesia.com – Angkutan umum sangat membantu sebagai alat transportasi bagi penumpang, sebagai salah satu sarana untuk mencapai tempat tertentu yang diinginkan penumpang tersebut. Namun meski demikian, hak-hak penumpang juga harus lebih diperhatikan dengan lebih baik, seperti keselamatan penumpang dan kepuasan dalam pelayanan.
Ada suatu penomena yang perlu disikapi untuk menjaga keselamatan penumpang, hal ini seperti ini yang terjadi didaerah Jawa identik dengan penumpang yang sering naik atap kereta sedangkan menurut pantauan media ini di kecamatan Betung dan kecamatan Suak Tapeh kabupaten Banyuasin, dan kecamatan Lais dan Babat Banyuasin Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) Propinsi Sumatera Selatan, identik dengan penumpang yang naik atap angkutan pedesaan. Yang lebih miris lagi pemandangan ini terjadi dengan angkutan pedesaan yang mengangkut penumpang berupa anak sekolah dan karyawan suatu perusahaan.
Sebenarnya atap angkutan pedesaan diperuntukkan bukan untuk ditumpangi oleh penumpang tapi sebagai penutup atas kendaraan agar penumpang yang berada didalamnya tidak kehujanan atau kepanasan, selain itu atap juga berfungsi sebagai tempat menaruh barang bawaan para penumpang.
Berdasarkan pengalaman, para penumpang yang naik diatap bis umumnya adalah anak sekolah. Sebenarnya yang membuat penomena naik atap ini menjadi pilihan salah satu alasannya adalah karena tak ada pilihan lain, kapasitas angkutan tidak muat, jadi demi sekolah atau tujuan yang lain naik atappun tak masalah yang akibatnya malah menimbulkan kebiasaan. Selanjutnya kosong atau penuh, naik atap menjadi pilihan.
Alasan kedua karena ongkos, dengan naik atap ongkos jauh lebih murah serta alasan karena kernet dan rasa maskulin. Bagi yang merasa lebih maskulin akan memilih naik diatap dari pada didalam kendaraan apalagi saat banyak penumpang. Mereka tidak menyadari bahaya mengintai dan mengancam nyawanya setiap saat.
Suryadi (30) warga kecamatan Betung saat dikonfirmasi mengatakan, para kru bis sebenarnya tahu persis bahaya naik atap ini tapi bila tak begitu mereka juga tak mendapatkan uang masuk. Sebenarnya penomena naik atap mobil ini juga dilarang dan sudah dirahasia pihak kepolisian, tapi para penumpang jauh lebih pintar. Contohnya saja saat melintasi daerah yang dijaga maka penumpang akan turun sejenak, sudah lewat mereka akan naik lagi atau mereka tak segan segan berkamuflase.
Hal senada juga diungkapkan oleh Irawan (40) warga Lais kabupaten Musi Banyuasin (Muba), mengeluhkan pemandangan yang tak sepatutnya terjadi, hal itu selain akan membahayakan anak-anak tersebut, juga beresiko bagi sang sopir atau pemilik kendaraan. “jika terjadi sesuatu, seperti terjatuhnya penumpang dari atap kendaraan tersebut, siapa yang disalahkan? Tentunya kerugian bagi kedua belah pihak, baik korban maupun sopir atau pemilik kendaraan angkutan umum tersebut”, Tutur Irawan.
“pihak kepolisian sudah sering melakukan razia, karena adanya laporan dari warga dan pengguna jalan lainnya, tetapi meraka masih tetap saja membandel. Diharapkan kepada pihak kepolisian terus melakukan razia guna meminimalisir keadaan dan pihak sekolahan hendaknya terus menghimbau kepada anak didiknya atas bahaya akibat dari hal tersebut” imbuh Irawan. (bi)








