Belajar Daring Sulit Diterapkan Terkendala Jaringan Internet di Pesantren Darul Ulum, Pulau Rimau

16.405 dilihat
Santriwan, Ponpes Darul Ulum Pulau Rimau, dicek suhu tubuhnya sebelum masuk kelas. Minggu 10 Januari 2021.

BUANAINDONESIA, SUMSEL- K.H.Ali Mahmudi, S.H, M.Si, Pengasuh Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Darul Ulum di Desa Sumber Mulyo Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin mengatakan mendirikan Ponpes MTs tahun 1995 dan MA tahun 1996.

“Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA),”kata K.H. Ali Mahmudi. Saat diwawancarai, buanaindonesia di Ponpes Darul Ulum. Minggu 10 Januari 2021.

Advertisement

Pendiri Ponpes Darul Ulum menceritakan sekilas kisah pahitnya dalam pembangunan pesantren itu.

Sekitar 26 tahun yang lalu Yayasan pendidikan dan Pondok pesantren itu berdiri, tepatnya tahun 1995.

“Dulunya tanah tidak punya numpang di lahan orang untuk mendirikan pesantren ini, alhamdullilah sekarang sudah mempunyai lahan seluas 42 hektar,”ujarnya.

Dikatakan, lahan seluas itu, selain untuk pondok, juga dikelola ditanami sawit, karet dan padi untuk membangun pondok dan operasional,”jelasnya.

Jumlah alumninya sekarang mencapai 680 MTs, sedangkan Aliyah 512, “Sudah tersebar dimana-mana, ada pegawai Bank, TNI, PNS dan ada yang kembali menjadi guru di sekolah ini, setelah menyelesaikan S1,”ujarnya.

Untuk Tahun 2021, santriwan dan santriwati ada 200 dan 26 tenaga pengajar. “Lulusan S2 empat orang, yang lainnya semua S1. Diangkat PNS 2 orang, Inspassing 5, jumlah pengajar ada 26,”jelasnya.

Masih kata Ustad Ali Mahmudi, di masa pandemi COVID-19 belajar mengajar tetap berjalan. Namun dikurangi tidak ada jam istirahat.

“Semua santriwati dan santriwan sebelum wajib mencuci tangan dengan menerapkan 4 M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun di air mengalir dan menghindari kerumunan,”ujarnya.

Hal senada juga, dikatakan Ahmad Suja’i, M.Pd, kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah, santriwan dan santriwati, harus cuci di tempat yang sudah disediakan di halaman sekolah, semua harus lengkap, terutama masker dan hand sanitizer

“Belajar tatap muka dengan seizin wali santri, tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan, agar semuanya tetap aman,” ujarnya.

Dilanjutkan, “Kami sebagai pendidik di tengah pandemi COVID-19 ini tetap mengupayakan siswa bisa belajar, model pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring. Namun sejujurnya, belajar daring ini tidak efektif,” kata Suja’i,

Dijelaskan, alasannya, yang tinggal di daerah pedesaan dengan tingkat pendidikan dan penguasaan teknologi yang rendah, sarana prasarana belum memadai serta keadaan perekonomian masyarakat yang masih lemah, jelas tidak akan bisa mengikuti belajar daring ini.

“Tidak semua siswa memiliki laptop dan smart phone untuk mengikuti belajar melalui virtual, terkendala jaringan internet, sehingga dari 200 siswa, hanya setengahnya saja yang dapat mengikuti belajar daring ini,” ujarnya.

Alasan selanjutnya, sebagian besar peserta didik tidak berada di rumah saat belajar daring dimulai. Mereka melaksanakan aktifitas membantu orang tua seperti di perkebunan sawit, karet, persawahan.

“Itulah berbagai hal yang membuat pembelajaran daring sulit diterapkan secara efektif,”ungkapnya.

Menurut Suja’i, para guru di pesantren Darul Ulum, ingin peserta didiknya tetap mendapatkan hak belajar dimasa pandemi ini. Selain itu, di Pontren Darul Ulum untuk kegiatan ekstrakurikuler

“Ada Marching band, Pramuka, kegiatan Paskib, Khitobah, Tahfidz Al-Quran, Kali grafi dan pencak silat,”pungkasnya.

Advertisement