Berkat SKK Migas Pondok Herbal di Muba Dikenal Masyarakat

1.207 dilihat
Ketua Pondok Herbal, Yeni Lusmita , menunjukan Obat Herbal hasil Produksinya di Desa Gajah Mati, Babat Supat. Musi Banyuasin. Selasa 1 Oktober 2019. Foto : Wardoyo

BUANAINDONESIA.CO.ID, SUMSEL- Puluhan jurnalis  yang tergabung di Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel  bekerjasama dengan Pelaksana kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas)  mengadakan kunjungan ke mitra binaan.

Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Sumbagsel, Adiyanto Agus Handoyo,  sebelum berangkat menuju Field Trip mengatakan kegiatan, Field Trip hari ini, selasa 1 oktober 2019 dibagi dua kelompok untuk mengunjungi mitra binaan PT Medco  E & P Indonesia.

“Kunjungangan ke wilayah PT Pertamina Asset 2, Limau dan PT Medco E&P Indonesia Rimau/Kaji,” Kata Adiyanto. Selasa (1/10) di Kantor SKK Migas Kantor Perwakilan Sumatera bagian Selatan, Jalan Gubernur A.Bastari No 07 Jakabaring Palembang.

Dikatakan, Kegiatan Field Trip dilaksanakan secara berkala kegiatan untuk  meningkatkan kepercayaan insan pers,  bahwa keberadaan Medco E&P Indonesia  di Sumsel ini bisa  membawa multiplier effect yang positif bagi masyarakat terutama di daerah  sekitar area operasi.

“Harapan saya kegiatan SKK Migas di Sumsel memberi dampak positif ke masyarakat,”ujarnya.

Community Develolopment PT Medco E&P Rimau Asset 2, Novita Ambarsari juga mengatakan Perusahaan hulu Migas di Sumsel ini membantu pemberdayaan masyarakat Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin

“Membina masyarakat untuk menanam tanam-tanaman untuk bahan obat-obat herbal, untuk meningkatkan pendapatan keluarga,”ujarnya

Di Desa Gajah Mati ada salah satu binaan yang sekarang ini sudah bisa dikatakan mandiri, yaitu Pondok Herbal yang diketuai oleh Ibu Yeni Lusmita.

Ketua Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel, H. Oktaf Riady mengucapkan terimakasih, atas terselenggarakan kegiatan Field Trip.

“Kegiatan Field Trip sangat bermanfaat, untuk menambah wawasan. Semoga FJM dan SKK Migas tetap tetap bersinergi,”

Sementara itu, Ketua Pondok Herbal, Yeni Lusmita mengatakan awalnya berdiri pondok Herbal ini berkat binaan PT Medco E & P Indonesia.

“Pondok herbal di rintis  2011,  Tahun 2012 mulai berjalan sampai dengan sekarang dan dikenal masyarakat berkat binaan Medco,”ujarnya.

Dikatakan, awalnya PT Medco membantu bibit tanaman herbal, kemudian alat untuk mengemas obat agar bisa diterima masyarakat.

“Berkat keuletan dan kerja keras, Pondok Herbal kalau mengikuti kegiatan pameran selalu menang terus,”ujarnya

Kedepan kami prediksi, peluang obat herbal sangat menjanjikan, mengingat masyarakat saat ini mulai kembali beralih menggunakan produk yang alami.

“Saya pikir orang akan beralih ke obat herbal, yang kita produksi. Berkat binaan PT Medco, kelompok kami memliliki penghasilan yang cukup, kisaran 5- 10 juta perbulan lumayan dibanding sebelumnya hanya memantang karet di kebun,”