Ketua LPBI NU Sumsel Hadiri Ziarah Kubro 2026, Tegaskan Komitmen Ketangguhan Sosial dan Spiritualitas Ekologis

7.174 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID,-Palembang, 2026 – Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Selatan, Kgs. Hermansyah Mastari,

Kgs. Hermansyah Mastari, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama (NU) Sumatera Selatan
menghadiri rangkaian kegiatan Ziarah Kubro 2026 di Kota Palembang, sebuah tradisi religius tahunan yang diikuti oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah. Kehadiran Ketua LPBI NU Sumsel dalam kegiatan ini menjadi simbol integrasi antara nilai spiritual, sosial, dan kesadaran lingkungan dalam tradisi keagamaan masyarakat Sumatera Selatan.
Ziarah Kubro tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai momentum refleksi sosial dan peradaban Islam Nusantara. Ketua LPBI NU Sumsel menegaskan bahwa tradisi ziarah merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat Muslim yang mengajarkan nilai keteladanan, keberlanjutan peradaban, serta tanggung jawab terhadap alam dan sesama manusia.
“Ziarah Kubro bukan hanya mengenang ulama dan tokoh peradaban Islam, tetapi juga mengingatkan kita tentang tanggung jawab menjaga kehidupan, lingkungan, dan solidaritas sosial. Ini selaras dengan mandat LPBI NU dalam membangun ketangguhan masyarakat terhadap bencana dan krisis iklim,” ujar Ketua LPBI NU Sumsel di sela-sela kegiatan.
Sebagai badan otonom NU yang bergerak di bidang kebencanaan dan iklim, LPBI NU Sumsel memiliki tugas pokok dan fungsi antara lain:
1. Pencegahan dan mitigasi bencana berbasis komunitas,
2. Respons darurat dan penanganan bencana,
3. Pemulihan pasca bencana
4. Edukasi dan advokasi perubahan iklim dan lingkungan,
5. Penguatan kapasitas masyarakat sipil dalam ketangguhan bencana.
Dalam konteks Ziarah Kubro, kehadiran LPBI NU Sumsel dimaknai sebagai bagian dari pendekatan kultural dan keagamaan dalam edukasi kebencanaan. Tradisi keagamaan menjadi pintu masuk strategis untuk menanamkan kesadaran ekologis, solidaritas sosial, serta kesiapsiagaan komunitas menghadapi risiko bencana di wilayah Sumatera Selatan yang rawan banjir, kebakaran lahan, dan krisis iklim. Penekanan pentingnya ekoteologi Islam juga dipaparkan oleh Musthafa Haidar Shahab selaku Sekretaris LPBI NU Sumsel dalam penguatan gerakan kebencanaan berbasis keagamaan.
“NU memiliki tradisi spiritual yang kuat. Jika nilai-nilai itu dipadukan dengan agenda kebencanaan dan iklim, maka kita tidak hanya membangun masyarakat religius, tetapi juga masyarakat tangguh bencana dan berkeadaban ekologis,” tambahnya.
Ziarah Kubro 2026 menjadi ruang strategis bagi NU untuk memperkuat transformasi sosial berbasis tradisi keagamaan. Melalui LPBI NU, nilai spiritualitas diproyeksikan ke dalam aksi nyata: edukasi mitigasi bencana, penguatan relawan komunitas, serta kampanye perubahan perilaku ramah lingkungan.
Kehadiran Ketua LPBI NU Sumsel juga diharapkan memperkuat jejaring antara tokoh agama, komunitas pesantren, dan masyarakat dalam membangun sistem ketangguhan berbasis kearifan lokal.
Dengan menghadiri Ziarah Kubro 2026, LPBI NU Sumsel menunjukkan bahwa agenda kebencanaan dan iklim tidak terpisah dari tradisi keagamaan, melainkan terintegrasi dalam kehidupan spiritual masyarakat. Tradisi ziarah menjadi medium dakwah sosial-ekologis yang relevan dengan tantangan zaman, sekaligus memperkuat peran NU sebagai aktor peradaban Islam Nusantara yang responsif terhadap krisis kemanusiaan dan lingkungan.

Advertisement