Mawardi Yahya: Angka Kemiskinan Tertinggi di Sumsel Ada di Tiga Kabupaten

4.163 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID- SUMSEL- Mewakili Gubernur Sumsel Herman Deru, Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya membuka acara Kilas Balik Provinsi Sumsel Tahun 2018 menuju “Sumsel Maju untuk Semua” bersama sejumlah pimpinan media dan OPD di lingkungan Pemprov Sumsel, Jumat 28 Desember 2018 di Griya Agung. Dalam kesempatan itu Mawardi menyoroti angka kemiskinan yang masih tinggi di Sumsel.

Dijelaskan mantan Bupati Ogan Ilir (OI) dua periode tersebut menjelang awal tahun 2019,  semua pihak harus mencermati kinerja tahun 2018 agar pada tahun 2019 Sumsel  dapat mencapai kinerja yang lebih baik lagi.

Dipaparkannya beberapa indikator makro di Sumsel telah menunjukkan kinerja yang baik. Di antaranya adalah pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari nasional, kemudian tingkat inflasi lebih rendah dibandingkan nasional. Gini Rasio lebih rendah dibandingkan nasional, dan tingkat pengangguran terbuka lebih rendah dibandingkan nasional.

Sedangkan, untuk indikator yang capaiannya belum baik yakni IPM Sumsel 2017 yang lebih rendah dibandingkan nasional. Dan masih ada 14 kabupaten kota yang IPM nya di bawah nasional. Selain itu yang tak kalah penting adalah indikator angka kemiskinan Sumsel tahun 2018 yang juga masih lebih tinggi dibandingkan nasional.

“Angka kemiskinan tertinggi di Sumsel ini ada di tiga Kabupaten yaitu Muratara, Lahat dan Musi Banyuasin (Muba). Miris sekali karena kabupaten  Lahat dan Muba ini dua kabupaten yang kaya,” jelas Mawardi.

Dikatakan, Fakta ini, tidak bisa ditutupi. Meskipun cukup memalukan dia menilai hal ini harus diungkapkan secara terbuka agar pemimpin daerah dengan angka kemiskinan tinggi ikut termotivasi untuk menekan angka kemiskinan tersebut.

Sejak awal menjabat,  HDMY mencoba memimpin Sumsel dengan keterbukaan. Hal ini tak lain untuk menyamakan visi dan misi semua unsur terkait. Meski baru tiga bulan, HDMY kata Mawardi sudah meletakkan landasan untuk berlari dari kemiskinan pada 2019. Upaya ini mereka tunjukkan dengan menganggarkan sebagian besar APBD untuk pembangunan ke desa-desa dan pinggiran kota.

“Tahun depan angka kemiskinan Sumsel harus turun di bawah nasional. Target kita harusnya satu digit,” tegas Mawardi.

Lebih jauh kaya Mawardi berdasarkan capaian gahun 2018, maka untuk menyongsong tahun 2019 pembangunan di Sumsel harus direncanakan dan dilaksa akan lebih baik lagi. Pembangunan Sumsel bukan hanya dilaksanakan oleh Pemprov namun juga dilakukan bersama-sama dengan pemerintah kabupaten/kota dan seluruh komponen masyarakat.
Untuk itu, program dan kegiatan tahun 2019 hatus lebih terintegrasi, tepat lokasi dan tepat sasaran.

“Kita gerakkan seluruh sumber daya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Tahun depan lanjut Mawardi, program-program prioritas pembangunan akan difokuskan untuk pemerataan pembangunan bagi seluruh masyarakat Sumsel. Pembangunan juga harus benar-benar dapat dirasakan manfaatnya bagi maayarakat seluruh provinsi Sumsel.
“Sudah saatnya kita bersinergi membangun Sumsel, mewujudkan visi Provinsi Sumsel 2018-2023. Sumsel Maju untuk Semua,”

Sementara itu Kepala Bapenda Sumsel Ekowati Retnaningsih menjelaskan sesuai visi misi Sumsel tahun 2018-2023 “Sumsel Maju untuk Semua” ada 5 misi yag menjadi target utama. Di antaranya yak i membangun Sumsel berbasis ekonomi kerakyatan  yang didukung sektor pertanian, industri dan UMKM yang tangguh untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan baik di perkotaan maupun di pedesaan.

Selanjutnya meningkatkan kualitas SDM baik laki-laki maupun perempuan yang sehat, berpendidikan, profesional dan menunjung tinggi nilai keimanan, ketakwaan, kejujuran dan integritas.