Soal Penahanan KTP Ibu Pasien, Ternyata Ini Kronologisnya

7.327 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT – Sempat menjadi bahan pemberitaan beberapa media terkait penahanan KTP seorang keluarga pasien oleh Rumah Sakit Medina, Anetta Lesmana Direktur RS Medina menyampaikan klarifikasinya melalui pesan WhatsApp kepada redaksi Media Buanaindonesia, Jumat 14 Januari 2022.

Dalam pesannya Anetta Lesmana menuturkan kronologis terjadinya penahanan KTP atas Nama Ibu Wiwin Sundari warga kampung Selagedang desa Cibatu kecamatan Cibatu kabupaten Garut.

Advertisement

” Aswrwb… saya dr. Anetta Lesmana, Direktur RS. Medina, bersama ini kami sampaikan Klarifikasi atas pemberitaan di Media Sosial terkait adanya penahanan KTP salah satu Keluaga pasien *Ibu WS* sebagai Ibu dari Pasien a.n Bayi MAA.

Dengan kronoligis sebagai berikut :

Pasien a.n Bayi MAA datang berobat ke RS. Medina tanggal 18 Desember 2021 Pukul 11.15 WIB didampingi/diantar oleh Kader a.n Ibu Nita dan ketika di jelaskan tentang sistem pembayaran menyatakan siap sebagai Pasien UMUM dan tanda tangan diatas surat pernyataan (General Consent) karena Bayi a.n MAA belum memiliki kartu BPJS.

Bayi MAA menjalani Perawatan dari tanggal 18 Desember 2021 dan Pulang 21 Desember selama 4 hari perawatan di RS. Medina.

Sementara itu Bayi MAA baru memiliki kartu BPJS tertanggal 21 Desember 2021 sebagaimana bukti data dari BPJS, atau kartu BPJS baru aktif ketika sudah pulang, sehingga Kartu BPJS tidak bisa digunakan karena telah melebihi waktu 3×24 Jam masa perawatan, jika kartu BPJS tersebut ada pada tanggal 20 Desember 2021 maka akan bisa digunakan karena masih dalam batas waktu tunggu BPJS 3×24 jam, karena kartu Tersebut baru ada tanggal 21 Desember 2021 sehingga tidak bisa digunakan karena telah melebihi batas waktu tunggu 3×24 jam sebagaimana aturan dari BPJS

Sehingga pasien a.n Bayi MAA statusnya sebagai pasien umum karena kartu BPJS baru ada setelah pasien selesai menjalani perawatan lebih dari 3×24 jam (3 hari)

Terkait dengan penahanan KTP itu sudah dilakukan atas dasar musyawarah dg Ibu WS sebagai ibu dari Pasien bayi MAA dan tidak keberatan untuk menyicil sisa pembayaran dan menyimpan KTP sebagai jaminan sebagaimana tertuang dalam surat pernyataan administrasi rawat inap.

Tadi kami sudah bertemu dengan Kepala Desa Cibatu sebagai pihak yang mewakili daerah keluarga Pasien dan menyatakan bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga Tidak Mampu, sehingga kami sebagai manajemen rumah sakit memberikan kadeudeuh dan mengembalikan KTP Ibu WS dan kami menerima Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang diterbitkan oleh Kepala Desa Cibatu.

Kami selalu dan akan memberikan perhatian khusus bagi keluarga yang tidak mampu yang berobat yang membawa atau menunjukan SKTM, namun keluarga Bayi MAA saat berobat tidak membawa SKTM dan menyatakan bersedia berobat dengan status pasien umum.

Atas nama pribadi dan RS. Medina, saya mohon maaf jika ada ketidaknyamanan dalam pelayanan kami selama ini.

Hatur nuhun

Dr. Anetta Lesmana.

Dihubungi melalui telepon seluler Kepala Desa Cibatu Dadang Sulaeman membenarkan apa yang disampaikan manajemen RS Medina di pesan WhastApp, menurutnya , isi dari pesan itu sesuai dengan apa yang disampaikan saat mengadakan pertemuan tadi siang.

” Ya, apa yang disampaikan pesan itu sama dengan apa yang diutarakan saat pertemuan dengan saya tadi siang, bahkan setelah itu pihak manajemen RS Medina langsung menyerahkan KTP ibu Wiwin dan memberikan bantuan uang tunai Rp 1, 5 juta” ucap Dadang Sulaeman.

Advertisement