BANYUASIN, Buanaindonesia.con – Makin merosotnya harga karet, membuat petani tidak untuk menyadap karetnya, bahkan hingga memilih untuk menjual kebun karetnya yang masih produktif. Kondisi ini pun terjadi dan dialami oleh petani karet di Desa Sungai Dua Kecamatan Rambutan. Akibat harga karet yang makin tak menentu, tak menyadap karet pun menjadi pilihan.
Hal ini dibenarkan Kades Sungai Dua, Muslim SH melalui Sekdes Fathur Rahman SSosI, dibincangi Kamis (17/3) kemarin. Dia menjelaskan jika kondisi ini sudah terjadi akibat petani karet yang merasa tidak ada harapan. Pasalnya, harga komoditi perkebunan yang satu ini makin hari makin anjlok.
“Ya, sudah banyak yang menjual kebun karetnya karena merasa tidak ada harapan lagi. Mereka merasa sia-sia menyadap karet karena harganya yang terus meroket jatuh. Walau ada yang masih menyadap, itupun tidak rutin seperti biasanya. Sebab tenaga yang dikeluarkan untuk menyadap karet tidak sebanding dengan hasil yang didapat,” ungkap Fathur.
Hal ini memang dilema yang harus dihadapi oleh petani karet, namun begitu mereka masih memiliki mata pencaharian lain berupa sawah yang menjadi tumpuan perekonomian. Namun, tidak bagi buruh sadap karet. Karena kebun karet telah dijual, otomatis mereka harus kehilangan penghasilan.
“Dengan menjual kebun, petani masih punya sawah. Namun yang cukup kelimpungan adalah mereka yang hanya sebagai buruh sadap. Otomatis mereka harus rela kehilangan penghasilan dan terpaksa harus mencari pekerjaan lain,” ucapnya.
Fathur menambahkan, jika persentase petani menjual kebunnya sekitar 30 persen, baik itu dijual kepada sesama warga di Desa Sungai Dua, namun ada pula yang dibeli oleh orang luar desa. Tentu saja kondisi akan terus bertambah , jika harga karet makin terpuruk.
Editor: Karnadi








