BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Kemarau panjang yang diprediksi hingga November mendatang memang membuat masyarakat kalang kabut. Tak terkecuali yang harus dihadapi petani karet di Kecamatan Air Kumbang. Ya, sudah berbulan-bulannya hujan tak turun berakibat pada menurunnya produksi getah karet yang dihasilkan.
Tentu saja kondisi ini makin membuat petani karet menjerit. Betapa tidak, makin tak kunjung sehatnya harga karet membuat mereka makin terpuruk.
Suwarno, warga Desa Rimba Jaya mengatakan jika sejak musim kemarau produksi getah karet turun. Jika biasanya setiap dua minggu dalam satu hektar, petani bisa menghasilkan getah karet sebanyak 150 kilogram. Sekarang akibat kemarau dirinya hanya mendapatkan 30 hingga 50 kilogram getah karet.
“Sejak dulu baru sekarang produksi karet yang turunnya sangat besar, ini membuat kita sebagai petani karet kesulitan, terlebih saat ini harga kebutuhan pokok sangat tinggi. Sementara pendapatan kita justru mengalami penurunan,” ujarnya.
Sementara untuk harga karet saat ini untuk harga karet bulanan hanya Rp 7.200 per kilogram. Jika dibandingkan harga beras, harga karet tersebut jauh lebih murah. Bagi petani karet yang tidak memiliki sumber penghasilan lain turunnya produksi serta rendahnya harga karet tentu sangat memberatkan. Terlebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi.
“Saya tidak ada pekerjaan dan usaha lain selain berkebun karet. Jika harga karet murah dan hasil sadapan kita turun tentu semakin membuat kita susah. Apalagi harga kebutuhan sekarang terus naik,” ucapnya.
Dia juga mengatakan, sebagian besar masyarakat di desa tempatnya tinggal selama ini beprofesi sebagai petani karet. Sehingga masyarakat sangat tergantung dengan produksi dan harga karet.
“Memang ada warga yang bersawah tapi sebagian besar kita memilih berkebun karet karena dulu harga karet pernah tinggi sehingga semakin membuat masyarakat semangat untuk berkebun karet,” ungkapnya.
Sementara itu, Rachmat, petani karet lainnya mengaku, hanya bisa pasrah dengan kondisi harga karet yang anjlok seperti sekarang. Karena sebagai seorang petani dirinya sadar tidak bisa berbuat apa-apa karena naik maupun turunnya harga karet tergantung pasar dunia.
”Namun saya sebagai masyarakat berharap pemerintah memperhatikan petani karet agar jangan lebih susah, apalagi sekarang harga kebutuhan hidup sehari-hari sangat mahal tidak sebanding dengan penghasilan dari berkebun karet,” harapnya.(muh)







