Lestarikan Budaya Lokal, Pemkab Muara Enim Gelar Festival Tunggu Tubang

12.767 dibaca
Gubernur Sumsel H Herman Deru didampingi Plt Bupati Muara Enim H Juarsah SH dan Sultan Palembang saa membuka Festival Budaya Tunggu Tubang Semende
Gubernur Sumsel H Herman Deru didampingi Plt Bupati Muara Enim H Juarsah SH dan Sultan Palembang saa membuka Festival Budaya Tunggu Tubang Semende

BUANAINDONESIA.CO.ID, MUARA ENIM – Dalam rangka melestarikan dan memperkenalkan budaya khas Kabupaten Muara Enim, salah satunya budaya Tunggu Tubang Semende. Pemkab Muara Enim menggelar Festival Budaya Tunggu Tubang 2019, bertempat di Lapangan Merdeka Muara Enim.

Festival yang mengangkat adat pernikahan Tunggu Tubang diwilayah semende dengan melibatkan masyarakat Marge Semende tiga Kecamatan yakni Semende Darat Laut (SDL), Semende Darat Tengah (SDT) dan Semende Darat Ulu (SDU).

Advertisement

Festival yang berlangsung meriah dan semarak tersebut, dihadiri langsung Gubernur Sumsel H Herman Deru beserta istri. Lalu, Plt Bupati Muara Enim H Juarsah SH, Sekda Muara Enim Ir H Hasanuddin, unsur Muspida dan tamu undangan lainnya.

Tunggu Tubang Culture Festival menampilkan gelaran adat yaknk Ngantat Bunting Balek di Kecamatan Semende Darat Ulu, lalu Bego’an atau Perbie di Kecamatan Semendo Darat Tengah. Dan Naikan Rasan di Kecamatan Semende Darat Laut.

Plt Bupati Muara Enim H Juarsah SH dalam sambutannya mengatakan, Kabupaten Muara Enim memiliki beragam seni dan budaya yang patut dilestarikan dan dikembangkan sebagai potensi wisata budaya. Salah satunya budaya Tunggu Tubang di Semende.

“Selain itu, Muara Enim memiliki beragam Marge diantaranya Marge Semende, Lubai suku-suku Empat Petulai, Dangku, Rambang, Rambang Kapak, Tengah, Dalam, Belimbing, Ujan Mas hingga Gelumbang dan Sungai Rotan. Hal inilah yang menyebabkan Kabupaten Muara Enim memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dengan kabupaten kota yang ada disekitarnya. Baik dalam provinsi Sumatera Selatan maupun provinsi di luar Sumatera Selatan,” terang Juarsah.

Juarsah menerangkan, Festival Tunggu Tubang menampilkan budaya dan adat masyarakat Marge Semende. Dimana, adat istiadat ini menganut sistem matrilineal atau garis keturunan wanita, dalam hal ini harus tunggu tubang atau anak perempuan untuk menjaga harta warisan.

“Harta ini bukanlah menjadi hak milik. Namun harta bersama atau harta keluarga. Dimana seorang anak perempuan akan dilimpahkan harta keluarga ketika dia sudah berumah tangga. Kecuali Tunggu Tubang itu atau garis keturunan anak perempuan tertua itu tidak menginginkan atau tidak menerima. Sehingga harta itu atau tumbuh-tumbuhan itu bisa dialihkan kepada anak lainnya,” terang Juarsah.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H Herman Deru (HD) mengaku bangga dengan Muara Enim atas penyelenggaraan kegiatan ini. Ia menilai Pemerintah Kabupaten Muara Enim telah mewadahi kreativitas masyarakat dengan baik.

“Hal ini dapat menjadi sangat dikenal, dan ini tentu dapat menjadi trend tersendiri dan dapat dicontoh oleh kabupaten lainnya. Dan mudah-mudahan Kabupaten ini terus bergelora untuk mengangkat adat daerah. Kepada pak Juarsyah kegiatan ini harus lebih banyak dilakukan dan juga libatkan masyarakat” ujarnya.
.
Dikatakannya, melalui pelaksanaan kegiatan ini, Pemkab Muara Enim telah mendukung salah satu program Pemprov Sumsel dalam melestarikan kearifan lokal.
.
“Saya ingin Pemerintah dan juga Warga Sumsel tetap menjunjung tinggi kearifan lokal Salah satunya dengan adat tunggu tubang. Dan juga adat-adat lainnya yang terdapat pada daerah-daerah di Sumsel, dan memiliki daya tarik tersendiri,” tegasnya.

Menurutnya Sumsel memiliki berbagai adat dan tarian khas daerah yang memiliki filosofi dalam menceritakan peristiwa dan juga edukasi kepada masyarakat.

Bagaimana Menurut Anda?