Jejak Lumpur, Jejak Cerita: Wartawan Menyatu dengan Alam di Sungsang

6.953 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID PALEMBANG- Langit Palembang masih berwarna abu-abu ketika puluhan wartawan berkumpul di lantai lima Gedung Bank Sumsel Babel, Selasa (19/8/2025). Sebagian masih menguap, sebagian sibuk merapikan lensa kamera, sisanya menyalakan rokok sambil bercanda. Dari titik inilah perjalanan Field Trip Forum Jurnalis Migas (FJM) 2025 dimulai—sebuah perjalanan yang tidak sekadar liputan, tapi juga ruang perjumpaan dengan alam dan masyarakat pesisir.

Di dalam bus menuju Sungsang, suasana lebih mirip arisan jalanan. Obrolan ngalor-ngidul, tawa pecah, hingga karaoke dadakan menemani perjalanan. Begitu tiba, rombongan disambut hangat oleh Camat Banyuasin II, Kepala Desa Sungsang IV, serta warga. Kehangatan itu seolah memberi isyarat: hari itu bukan sekadar acara formal, tapi bagian dari kebersamaan.

Advertisement

Mangrove Bukan Sekadar Pohon

Di tepi muara Sungai Musi, ratusan bibit mangrove berjejer menunggu tangan-tangan yang siap menanam. Manager Field Community & CID Medco, Hirmawan Eko Prabowo, menjelaskan alasannya. “Mangrove mampu menyerap karbon, menahan abrasi, sekaligus menopang ekonomi warga,” katanya.

Romi Hardiansyah, Kepala Desa Sungsang IV, menambahkan kisah yang lebih personal. “Dulu ikan tirusan hampir punah. Sekarang mulai muncul lagi. Nelayan bahkan ada yang dapat rezeki besar dari gelembung ikan itu,” ujarnya.

Lebih jauh, mangrove juga membuka pintu ekonomi kreatif. Dari buah pedada lahir sabun cuci tangan, sirup, hingga dodol. Ketua UMKM Sungsang IV, Nurlaela, mengaku omzet kelompoknya bisa tembus Rp60 juta saat musim lebaran. “Produk kami sudah sampai Jakarta dan Bogor,” ucapnya bangga.

Antara Lumpur, Tawa, dan Kesadaran

Ketua FJM Sumsel, H. Ocktap Riady, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar jalan-jalan profesi. “Ini ruang belajar bersama. Energi dan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.

Dan benar saja, saat wartawan menancapkan bibit mangrove, tawa riuh mengiringi. Ada yang terperosok hingga lutut, ada pula yang bajunya penuh lumpur. Namun di balik kelucuan itu, terselip kesadaran: mangrove adalah benteng kehidupan.

Pulang dengan Oleh-Oleh Kesadaran

Menjelang sore, rombongan kembali ke Palembang dengan sepatu kotor dan baju bercak lumpur. Tapi tak seorang pun mengeluh. Sebab di Sungsang, mereka tak hanya menanam pohon, melainkan juga menanam kesadaran: jurnalis bukan sekadar pencatat peristiwa, melainkan juga saksi dan penjaga keseimbangan antara alam, masyarakat, dan industri.

Field Trip FJM 2025 boleh saja hanya sehari, tapi jejaknya panjang. Sama seperti mangrove yang tumbuh perlahan, kelak ia akan menjelma benteng yang melindungi generasi mendatang.

Banner Mova

Bagaimana Menurut Anda?