Dibalik Tembok Tinggi Lapas Banyuasin, Api Sumpah Pemuda Nyatanya Tak Pernah Padam

374 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID BANYUASIN- Ada yang terasa berbeda di lapangan upacara Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuasin pada Rabu, 28 Oktober 2026. Di saat ribuan anak muda di luar sana merayakan Hari Sumpah Pemuda ke-98 dengan caranya masing-masing, semangat persatuan dan nasionalisme itu justru membara di balik tembok tinggi penjara. Mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, kegiatan yang dimulai tepat pukul 08.00 WIB ini berhasil menyatukan langkah para pegawai dan perwakilan warga binaan dari setiap kamar hunian dalam sebuah hikmat yang menyentuh.

​Pagi itu, Kepala Lapas Kelas IIA Banyuasin, Reza Meidiansyah Purnama, berdiri tegap sebagai inspektur upacara, sementara Komandan Upacara dipercayakan kepada Kepala Subseksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan, Anwar Farid. Suasana mendadak senyap ketika sang inspektur mulai melangkah maju untuk membacakan amanat dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Erick Thohir.

Advertisement

​Dalam amanat tersebut, terselip pesan mendalam tentang pentingnya membentuk generasi yang bukan cuma tangguh di atas kertas, melainkan sosok yang patriotik dalam pengabdian, gigih menantang zaman, serta memiliki empati nyata terhadap sesama manusia. Pesan-pesan ini terasa begitu hidup, seolah merasuk menembus batas-batas status sosial, mengingatkan siapa saja yang mendengarkan bahwa cinta tanah air dan nilai kemanusiaan adalah milik semua orang, tanpa terkecuali.

​Selepas upacara, Reza Meidiansyah Purnama, berbagi pandangannya dengan mata yang berbinar penuh harap. Baginya, peringatan Sumpah Pemuda kali ini bukan sekadar rutinitas tahunan yang gugur kewajiban, melainkan sebuah cermin besar bagi seluruh jajaran dan warga binaan di dalam lapas.

​“Semangat Sumpah Pemuda harus kita maknai melalui sikap disiplin, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama. Nilai patriotisme, kegigihan, dan empati perlu diterapkan dalam pelaksanaan tugas serta menjadi bagian dari upaya membangun pribadi yang lebih baik,” ujarnya dengan nada hangat.

​Lebih jauh, ia berharap momentum ini bisa menjadi suntikan energi baru. Bagi para petugas, ini adalah pengingat untuk terus tulus menjalankan tugas pemasyarakatan. Sedangkan bagi para warga binaan, detik-detik upacara tadi diharapkan mampu membakar tekad mereka untuk menjalani proses pembinaan dengan hati yang lapang demi menyongsong masa depan yang jauh lebih cerah di luar sana.

Bagaimana Menurut Anda?