MUARA ENIM, Buanaindonesia.com –
Para petani karet di Kecamatan Tanjung Agung dan Lawang Kidul Muara Enim mulai ketar ketir jelang lebaran tahun ini. Pasalnya, harga karet di tingkat pengepul saat ini sangat rendah. Harga jual karet bertolak belakang dengan harga kebutuhan bahan makanan yang terus saja meroket menjelang lebaran.
Berdasarkan pantauan, Jumat (01/07/2016) harga karet basah yang dijual para petani kepada pengumpul hanya Rp 5 ribu per kilogram. Harga ini sebenarnya tidak sebanding dengan biaya perawatan dan panen yang dilakukan para petani setiap harinya. Bahkan mendekati Lebaran harga karet diperkirakan akan semakin turun.
“Kami para petani sangat kesulitan dengan harga karet yang hanya Rp 5 ribu per kilogram. Untuk upah panen dan perawatan saja sudah tidak balik modal. Kami berharap agar pemerintah dapat berupaya menaikkan harga karet yang terus saja merosot,” ungkap Saili (45), petani karet warga Desa Darmo Kecamatan Lawang Kidul.
Menghadapi lebaran tahun ini, dirinya memastikan tidak memenuhi kebutuhan yang berlebihan. Ia hanya mementingkan untuk memenuhi kebutuhan anak masuk sekolah dan makan sehari-hari saja, dibandingkan memikirkan kebutuhan lebaran.
“Untuk kebutuhan sehari-hari saja harganya sudah naik semua. Aku idak ngejoke nak lebaran, hanya untuk anak sekolah saja,” ucapnya.
Petani lain, Basroni (50), warga Desa Tanjung Agung mengungkapkan, harga karet diwilayahnya cenderung menurun dari harga Rp 8 ribu, sekarang turun menjadi Rp 7 ribu rupiah per kilogram untuk penjualan bulanan.
“Kalau saya biasa menjual karet bulanan. Kemarin sempat harga 8 ribu kita mulai semangat. Tetapi sekarang malah turun drastis sampai Rp 7 ribu untuk harga bulanan. Lebaran tahun ini sedang krisis, banyak kebutuhan terutama anak sekolah,” ungkapnya.








