Listiawati Penderita Jantung Bocor Butuh Bantuan Dermawan

8.898 dibaca

MUARAENIM, Buanaindonesia.com – Listiawati (22) warga Desa Keban Agung Kecamatan Lawang Kidul sangat membutuhkan bantuan dan uluran tangan dermawan, dirinya menderita jantung bocor sejak 6 tahun lalu. Kedua orang tuanya sudah berusaha maksimal untuk menyembuhkan penyakit anaknya melalui fasilitas Jamkesmas dan BPJS, namun hal itu tidak bisa berbuat banyak.

Jantung BocorSekarang ini, kondisi fisik remaja putri itu tampak kurus, sepertinya dirinya sudah pasarah dengan keadaan yang dialaminya itu. Soal biayapun menjadi kendala yang dialami Listiawati dan kedua orang tuanya. Sainul (55) bapak Listiawati hanya seorang buruh lepas, dan sementara Ibunya Sri Umiarsih (43) hanya Ibu Rumah Tangga sudah merasa tak mampu lagi untuk mengeluarkan biaya pengobatan anaknya.

Advertisement

“Untuk mendapatkan perawatan  pencangkokan jantung maka Listiawati harus mendapatkan tindakan operasi, yang bisa dilakukan di Rumah Sakit yang ada di Jakarta,” tutur Sainul kepada Buanaindonesia.com, Selasa (1/12/2015).

Untuk berobat ke Jakarta, kata Sainul, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebelumnya, mereka telah dibantu sebesar Rp4 juta dari  Dinas Sosial Muara Enim, lalu mereka disarankan membuat rujukan ke BPJS. Namun, karena hanya menjadi peserta BPJS kelas 3 tidak bisa mendapatkan pelayanan operasi cangkok jantung.

Lanjutnya, pihaknya juga pernah dibantu oleh pihak Puskesmas Tanjung Enim dalam hal urusan transport dan administrasi untuk pengobatan di Muara Enim dan Palembang. Sehingga selama 3 minggu berobat di Palembang itu hasilnya harus operasi cangkok jantung.

“Dari hasil itu anak kami harus dilakukan tindakan operasi cangkok jantung di Jakarta, karena kami sudah tidak punya apa apa lagi jadi hingga saat ini hanya diberi obat penahan untuk anak kami untuk pulang,”ungkapnya.

Sementara Listiawati,  menceritakan awal mula sakitnya terjadi dari tahun 2009 semasa duduk di kelas 2 SMP keluhan pertamanya sakit. Di sendi – sendi selama  6 bulan tidak bisa berjalan, dan jantung terus bedebar – debar, tangan dan badan  sering berkeringatan serta kalau kambuh badan terasa sakit.

Penyakit ini mulai terasa sejak  naik ke kelas  3 SMP hingga kelas 1 SMK  sampai sekarang ini, bahkan pernah saya berada diruang ICU RSUD HM Rabain Muara Enim  selama tiga hari tanpa sadar sejak itulah saya di vonis penyakit jantung.

“Sejak itu saya sudah tidak sekolah lagi karena terasa sangat capek sementara orangtua saya hanya buruh lepas yang tak akan mampu jika harus terus menerus membawa saya ke rumah sakit,”ungkap Listiawati.

Editor : Juan

Bagaimana Menurut Anda?