MUARAENIM, Buanaindonesia.com- Para petani di wilayah Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU) dan Semende Darat Tengah (SDT) mengeluhkan kesulitan mencari lokasi untuk menyemai benih padi akibat lahan persawahan yang kering akibat kemarau panjang.
Padahal menurut mereka, sesuai dengan jadwal tidak lama lagi berdasarkan hitungan kalender sudah mulai masuk masa olah tanah. Dimana sebelumnya diawali dengan masa menebar benih. Saat benih masih dalam persemaian, itulah masa mengolah tanah.
Hanya saja saat ini menurut mereka, jangankan untuk mengolah tanah. Mencari sepetak tanah untuk lokasi menyemai benih padi saja sulit. Berbeda dengan daerah lain yang bisa disemai ditanah kering atau lembab. Benih padi yang biasa disemai oleh petani di wilayah tersebut memang harus benar-benar dilahan basah.
“Karena jenis padi kita adalah padi tinggi yang dipanen dengan cara dituai, panennya juga setahun sekali. Lokasi pembenihan memang harus benar-benar basah bahkan cenderung berair,”ujar Mukramin (40), petani padi Desa Aremantai Kecamatan SDU, Selasa (19/20/2015).
Hanya saja menurutnya, dengan kondisi saat ini jelas tidak mungkin membuat persemaian. Karena rata-rata tanah atau areal persawahan diwilayah tersebut kering, bahkan hingga tanahnya meretak. Petani diwilayah tersebut juga masih mengandalkan irigasi tradisional. Sehingga saat musim kemarau sama sekali tidak ada pasokan air.
“Sawah disini strukturnya berundak dan berbukit, maklum saja namanya daerah perbukitan, jadi untuk pasokan air benar-benar mengandalkan hujan,”jelasnya.
Senada, Taslim,(50) petani warga Desa Pajar Bulan Kecamatan SDU mengatakan, dengan kondisi sawah yang kering kerontang, paling-paling petani menumpang di areal persawahan yang ada mata airnya.
Jumlahnya, terangnya, sangat terbatas dan lokasinya juga sudah jauh dilereng perbukitan,atau areal persawahan yang rendah. Tentu saja menurutnya hal itu menyulitkan petani, karena harus melakukan pengecekan bibit yang disemai dan mengangkut benih saat hendak ditanam kelak.
“Biasanya yang ada mata air, lokasi sawahnya dipinggir dan diujung dan sudah dekat areal hutan, kalau tidak diawasi dan dikontrol khawatir dirusak oleh binatang seperti kera dan babi hutan,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, pola pengolahan lahan juga akan semakin berat. Untuk petani yang sawahnya masih bisa digarap dengan traktor tidak terlalu barat. Hanya saja bagi petani yang masih manual dengan menggunakan cangkul,jelas akan sangat berat. Karena kondisi tanahnya menjadi keras akibat kemarau. Hal ini dikarenakan tidak semua areal persawahan diwilayah tersebut yang bisa digarap dengan traktor,mengingat posisi lahan petak sawahnya kecil-kecil dan berada ditebingan.
“Kami khawatir kemarau masih lama, karena kita bisa mengalami masa paceklik dengan jangka waktu cukup lama,” pungkasnya.
Editor : Juan








