Sambut Nyepi, Umat Hindu Dwi Darma Arak Ogo-Ogo

19.568 dibaca
Untuk menyambut tahun baru saka yang ke 1939 umat hindu di Dusun Dwi darma, Desa Ciptodadi I,Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL), memeriakannya dengan cara mengarak ogo-ogo (Boneka raksasksa yang seram) keliling kampung,Senin(27/3).
Untuk menyambut tahun baru saka yang ke 1939 umat hindu di Dusun Dwi darma, Desa Ciptodadi I,Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL), memeriakannya dengan cara mengarak ogo-ogo (Boneka raksasksa yang seram) keliling kampung,Senin(27/3).

BUANAINDONESIA.COM, SUMSEL – Untuk menyambut tahun baru saka yang ke 1939 umat hindu di Dusun Dwi darma, Desa Ciptodadi I,Kecamatan Sukakarya, Kabupaten Musi Rawas Provinsi Sumatera Selatan (SUMSEL), memeriakannya dengan cara mengarak ogo-ogo (Boneka raksasksa yang seram) keliling kampung,Senin(27/3).Iklan rumah banyuasin

Ketua Parasade Hindu Darma Indonesia (PDHI) cabang Sukakarya,Ketut karuna mengatakan diadakanya pengarakan ogo-ogo merupakan untuk mengingatkan umat akan sifat manusia dan mengusir roh jahat .
“Ada dua ogo-ogo yang diarak keliling kampung.Kedua ogo-ogo ini merupakan hasil karya pemuda dwidarma,”Kata Ketut Karuna.

Advertisement

Sedangkan untuk pembiyaan ia mengatakan semuanya berkat sumbangan masyrakat.
“Dana pembuatan dari sumbangan masyrakat, sedangkan untuk pembuatanya memakan waktu satu bulan,”jelasnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan jika ogo-ogo akan diarak dan dibakar setelah seluruh umat melakukan proses sembayang.
“Harapan saya dengan perayaan ini bisa mempersatukan umat semua umat.Saya juga berharap kedepanya pemerintah bisa memfasilitasi pembuatan dan perayaan ini sebab ini merupakan dari kebudayaan,”ungkapnya.

Sementara itu, ratusan warga dari Kecamatan Sukakarya dan sekitarnya memadati jalan untuk menyaksikan prosesi diaraknya ogo-ogo. Akibatnya, kemacetanpun tidak terhindar.

“Saya sengaja datang dari Desa Darma Sakti untuk menyaksikan ogo-ogo. Biasa, ini merupakan hal yang cukup bagus, meskipun ini prosesi keagamaan tetapi ini juga bagian dari budaya yang harus di pertahankan,”cetusnya.

Bagaimana Menurut Anda?