BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH – Masyarakat Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah resah dengan maraknya penambangan galian C yang diduga tidak memiliki izin.
Jalaluddin, warga disana mengatakan, perusahaan tambang tersebut telah beroperasi sekitar satu tahun dan lingkungan sekitar tambang terlihat rusak.
” Saya berharap adanya perhatian khusus dari pihak pemerintah terkait hal tersebut, agar alam yang terlihat rusak itu dapat dirawat dan dijaga kembali,” kata dia
Sejumlah perusahaan ditengarai dipasok oleh tambang – tambang ilegal disana, salah satunya PT Hyundai perusahaan yang saat ini menjadi Sub Kontrak pada pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) disana. Pihak Hyundai menyangkal material yang mereka gunakan dipasok material dari tambang ilegal.
Andi Diki Surya yang menjabat sebagai Kepala plening perisahaan itu mengatakan, sebelum melakukan kerjasama dengan pihak pemasok material untuk pembangunan PLTA di Aceh Tengah, pihaknya telah menanyakan izin dari pihak perusahaan galian C.
“Sebelum kami membuat kontrak, kami telah memastikan bahwa perusahaan itu memiliki izin secara legal,” ungkapnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Aceh Tengah, Zikriadi, menjelaskan, dari lima perusahaan tambang yang memasok material ke perusahaan PT. Hyundai, hanya satu yang memiliki izin galian C.
” Dari lima perusahaan tambang di Desa Balng Mekumur, Kacamatan Celala, hanya satu yang telah memiliki Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) empat diantaranya belum memilikinya, ada juga yang sedang dalam pengurusan,” ungkapnya saat di wawancara pada hari Sabtu, 18 November 2017.
Zikriadi menambahkan, pihaknya telah menurunkan tim survey ke lapangan beberapa hari lalu, dan telah melarang pihak tambang yang tidak memiliki izin untuk tidak melakukan operasi galian C, apabila belum mengantongi izin resmi dari pemerintah.
” Kita meminta pihak Dinas terkait juga memberikan batas tenggang waktu dalam pengurusan izin, dan bila dalam batas waktu itu pihak perusahaan belum dapat menunjukkan izin, maka akan di tindak tegas sesuai aturan yang berlaku di negara ini,” ucap Zikriadi
EDITOR: WN








