Kata Ermita, pihaknya sudah berupaya mengusulak agar tahun pembelajaran tahun ini sudah mendapat tambahan rubel, dari pengalaman tahun kemarin terpaksa kami siswa dibuat sistem belajar sampai 3 sip ( Sip pagi, siang dan malam), namun akhirnya apa yang terjadi setelah saat musim belajar dengan mengurangi jam belajar dari masing-masing siswa.
Memang ada beberapa walisiswa yang mengatakan kepada pihak sekolah ini bahwa biar anaknya belajar dibawah tenda tidak bermasalah, asalkan dapat diterima menjadi siswa di sekolah ini, karena belajar didalam ruangan dan dibawah tenda juga sama-sama gratis, yang penting para dewan guru mau mengajarnya, tiru dia.
Ermita menambahkan, walaupun bagaimana kami selaku kepala sekolah terus berusaha memperjuangkan agar mendapat tambahan ruang belajar, sekalipun dari pemerintah baik pusat, provinsi dan Kabupaten banyuasin masih juga belum ada akan kami cari kemana saja termasuk keperusahaan.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin melalui Kabiddikdas, Sopran Nurozi mengatakan tidak setuju jika sampai ada siswa belajar dibawah tenda dan tidak mungkin itu bisa terjadi di Banyuasin. Yang namanya belajar itu kan ada jadwalnya, mungkin bisa saja dibagi waktunya, bila perlu belajar sampai malam. Namun demikian dia membenarkan kalau di Banyuasin ini masih membutuhkan lokal baru sebanyak 178 unit, tetapi untuk tahun 2013 ini untuk SD tidak ada dana dari DAK. Masih menurutnya untuk rehab berat ringan gedung SDN se Kabupaten Banyuasin ada 531 unit.
Sedangkan untuk mebeler yang ada mengalami kerusakan mencapai 80 persen dari sejumlah 489 unit sekolah dan sebanyak itu terbilang tidak layak untuk kegiatan belajar mengajar, inilah yang membuat kita sebagai pemeran di kantor dinas ini harus memutar pikiran, akunya.(jns)
Advertisement







