BUANAINDONESIA.CO.ID PALEMBANG – Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) Sumatera Selatan mendesak pemerintah daerah dan Pertamina segera menambah stok solar dan membuka dua SPBU—Sungai Buah dan Sekojo—selama 24 jam penuh. Kedua SPBU tersebut dinilai sebagai lokasi vital karena berada di jalur distribusi menuju pelabuhan, depo, dan pusat logistik.
Ketua APTRINDO Sumsel, Supriyadi, mengatakan bahwa aktivitas logistik di wilayah Sumsel terus meningkat sehingga kebutuhan solar melonjak tajam. Namun, keterbatasan pasokan dan pembatasan jam layanan membuat distribusi barang tersendat dan menimbulkan kerugian besar bagi pengusaha.
“Dampaknya terlalu banyak merugikan pengusaha dan berimbas kepada pelanggan. Surat edaran ini tidak mendukung kelancaran distribusi logistik, terutama bagi kami di sektor pengangkutan,” ujarnya.
Pasokan Solar Diklaim Cukup, Tetapi Antrean Tak Terbendung
APTRINDO juga mempertanyakan pernyataan pemerintah daerah dan Pertamina yang menyebut pasokan solar masih aman. Supriyadi menegaskan, kondisi di lapangan justru menunjukkan fakta sebaliknya.
“Kalau solar cukup, tidak mungkin terjadi antrean panjang di SPBU. Kenyataannya, truk-truk mengular dan menyebabkan kemacetan,” kata dia.
APTRINDO meminta pasokan solar di dua SPBU tersebut diperbesar dan jam operasional dibuka 24 jam karena keduanya merupakan titik utama pergerakan truk menuju kawasan pelabuhan.
Aktivitas Logistik Naik, Sopir Tertekan Antrean
Dalam beberapa bulan terakhir, peningkatan kebutuhan logistik membuat truk semakin sering mengisi BBM. Supriyadi menyebut aktivitas ekonomi meningkat karena aliran dana yang bergerak di sektor perdagangan.
Di sisi lain, sopir truk menghadapi tuntutan kerja yang makin berat akibat antrean panjang dan pembatasan jam layanan. Togar (40), salah satu sopir truk, mengaku sering datang jauh lebih awal karena layanan SPBU hanya dibuka pukul 22.00–04.00 WIB.
“Kami kesulitan karena antrean sudah panjang sebelum SPBU buka. Kadang yang paling belakang tidak kebagian solar,” keluhnya.
Togar juga menyoroti gangguan aplikasi MyPertamina yang membuat sopir gagal mengisi BBM meski sudah mengantre lama.
“Ada yang aplikasinya error, ada juga HP-nya bermasalah. Sudah antre panjang, ternyata gagal,” ujarnya.
APTRINDO Kritik Kebijakan Tanpa Melibatkan Pengusaha
APTRINDO menyesalkan kebijakan gubernur yang dinilai tidak melalui musyawarah dengan pengusaha transportasi. Mereka meminta adanya kajian akademis sebelum kebijakan diterapkan agar lebih adil dan tidak menghambat pergerakan logistik.
“Harusnya ada kajian akademis atau musyawarah dengan pengusaha truk. Kami juga berkontribusi besar untuk perekonomian Sumsel,” tegas Supriyadi.
Ia mengingatkan, sopir yang terus dipaksa mengantre malam hari lalu bekerja siang hari berisiko mengalami kelelahan ekstrem. Jika sopir mogok, pasokan kebutuhan masyarakat akan terganggu.
Kerugian Diperkirakan Mencapai Rp60 Miliar Per Bulan
Hambatan pengisian solar disebut menimbulkan kerugian sangat besar bagi pengusaha. Untuk satu kontainer, potensi kerugian mencapai Rp1 juta. Jika terjadi keterlambatan dua hari, nilai kerugian disebut bisa mencapai Rp800 juta. Dalam 15 hari kerja, potensi kerugian menyentuh Rp60 miliar per bulan.
APTRINDO meminta Gubernur Sumsel segera meninjau ulang kebijakan distribusi solar dan mencari solusi bersama.
“Kami berharap Gubernur Herman Deru membuka ruang audiensi dan mencari solusi yang bijaksana,” ujar Supriyadi.
Sementara itu, para sopir meminta kebijakan yang lebih manusiawi agar mereka tidak kehilangan waktu istirahat.“
“Kapan kami mau istirahat? Kami berharap pemerintah mempertimbangkan kondisi sopir,” kata Togar. (Roc)








