BUANAINDONESIA.CO.ID, ACEH JAYA – Ketut Wira Dnyana bersama tim Arkeologi dari Sumatera Utara selesai melakukan penelitian dugaan Sarkofagus (Peti Batu) peninggalan masa lampau. Hasil penelitian dan verifikasi objek yang diduga Sarkofagus dilakukan di desa Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya, Aceh telah menemukan titik terang.
Ketut Wira pakar Arkeologi, batu yang selama ini diduga Sarkofagus, ternyata bukan. Hal tersebut disampaikannya saat acara kegiatan Kajian Sarkofagus tahap II, dalam Forum Group Discusion, di Hotel Pantai Pantai Barat, Calang, Aceh Jaya, Sabtu, 11 November 2017.
Pengamatan atas objek dimaksud, ujar Ketut Wira, urat pintu masuk diduga Sarkofagus adalah alami, dan tidak dapat dilalui orang, pintu tersebut menyatu dan hanya bekas pahatan.
” Melihat dari masih utuhnya korteks-korteks yang ada disekitar pahatan, urat-urat batunya masih tetap memanjang melewati batas pintu tersebut, ” terang Ketut.
Dia melihat, di sekitar objek tersebut tidak ada sisa aktifitas berada di depan pintu, menandakan itu memang alami. Kalaupun ada kerusakan-kerusakan yang terjadi pada pintu dimaksud, itu akibat aktifitas masyarakat masa sekarang
“Masih tampak jelas sisa-sisa pangkasan yang masih baru terjadi beberapa waktu lalu, ” kata dia
Menurut dia, objek yang diduga Sarkofagus merupakan jenis batu vulkanis yang keras, sulit dipahat dengan peralatan.
” Itu hanya batu alam hasil letusan gunung vulkanis, memang banyak ditemukan di sekitar wilayah ini. Batu seperti yang ada disini, juga pernah ditemukan di Samosir, Sumatera Utara, namanya batu Hobon. Dugaan masyarakat setempat, dalam batu berbentuk seperti peti ada tersimpan harta karun. Ternyata setelah dibuka tidak ada objek apapun yang ditemukan. Sama seperti di sini. Jadi anggapan yang selama ini berkembang, bahwa di tempat tersebut tersimpan tulang belulang manusia ataupun harta karun tidaklah benar. Ulang Ketut Wira, itu hanya batu alami hasil letusan gunung vulkanis, ” tutup pakar arkeologi ini
Advertisement








