Gerilya Politik Gubernur Sulsel, Jerumuskan Rektor Unhas dalam Politik Praktis

4.862 dilihat
Sulthani

BUANAINDONESIA.CO.ID, MAKASSAR-Ketua Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Sulawesi Selatan, Sulthani sangat menyayangkan pernyataan Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu, karena dipandang menurunkan derajat Prof Dwia sebagai akademisi atau intelektual, sekaligus juga menurunkan derajat Unhas sebagai perguruan tinggi kelas dunia (World Class).

Sebelumnya, orang nomor satu di kampus ternama di Indonesia Timur itu blak-blakan memberikan dukungan atas kasus politik Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah yang saat ini kinerjanya dipersoalkan oleh DPRD setempat.

Rektor Unhas itu menyatakan, seluruh pihak yang berani bermain-main dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel akan berhadapan dengan Unhas Makassar. Unhas tengah menyiapkan Nurdin Abdullah menjadi tokoh bangsa di kemudian hari. Hal itu disampaikan Dwia dalam sambutannya di acara Dies Natalis Unhas Makassar ke-63 tahun di halaman Rumah Jabatan Bupati Bone, Selasa, 3 september 2019.

“Bahasa yang dipakai Prof Dwia pun, bahasa preman. Siapa berani macam-macam, bukanlah bahasa akademisi atau bahasa seorang Professor, apalagi bahasa seorang Rektor,” tutur Sulthani yang juga Wakil Sekjen MPN Pemuda Pancasila.

Sultani mengingatkan Rektor Unhas, sebagai seorang intelektual seharusnya Prof Dwia tidak apriori terhadap proses demokrasi dan hukum.

“Misalnya ada ASN seperti Jumras, Hatta, Lutfi dan lainnya sedang berjuang membela hak-haknya secara demokratis dan sesuai prosedur hukum yang berlaku,” kata Sultani seraya kembali mengingatkan kalau seorang Gubernur tidak kebal hukum.
Jadi menurutnya, kalau ada tindakan dan kebijakan Gubernur yang merugikan hak-hak orang lain.

“Ya, bagi saya. Hanya ada Satu kata. Lawan Gubernur,” ujar Sulthani lantang.

Di Indonesia negara hukum ini, lanjut Sulthani seorang sekelas Rektor tidak pantas mengeluarkan pernyataan menantang pada pada seorang rakyat pencari keadilan. Karena pencari keadilan di Indonesia dilindungi Undang-Undang, dan tidak boleh ada diskriminasi.

“Karena itu Ibu Rektor, maaf kalau saya mengatakan, tidak takut pada ancaman anda itu Prof. Saya justru sangat sedih, pernyataan Anda itu, mendistorsi nilai-nilai moral intelektual Unhas, Unhas yang oleh kita rakyat Sulsel, cintai dan banggakan,” kata Sulthani yang kemudian meminta Rektor Unhas instropeksi diri.

Sulthani menyindir sikap Rektor Unhas yang membabi buta mendukung Gubernur Nurdin Abdullah itu erat kaitannya dengan pemberian Dana Hibah sebesar 10M kepada Unhas pada tahun Anggaran 2019 ini.

“Anggap saja ini balas budi Unhas atas kemurahan hati Nurdin Abdullah memberikan Dana Hibah 10M, di posisi gubernur saat ini yang tengah menghadapi masalah besar karena aib-nya semua dibongkar oleh Pansus Angket DPRD Sulsel,” kuncinya.