Kisah KWT Embun Pagi Sulap Singkong Jadi Produk Bernilai, Warga Simpang Bayat Mulai Naik Kelas

1.071 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID, MUBA – Dulu singkong hanya dipandang sebagai hasil kebun yang dijual begitu saja. Kini, di tangan Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, singkong mulai disulap menjadi produk pangan yang punya nilai tambah.

Perubahan itu semakin terasa setelah Rumah Produksi KWT Embun Pagi resmi diresmikan. Tempat ini menjadi ruang baru bagi para perempuan desa untuk mengolah singkong hasil kebun masyarakat menjadi berbagai produk pangan, termasuk tepung mocaf.

Advertisement

Bukan sekadar bangunan baru, rumah produksi tersebut menjadi bagian dari perjalanan KWT Embun Pagi untuk mengembangkan usaha dan membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi anggota kelompok maupun petani singkong di desa.

Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio Nursabdo, bersama Camat Bayung Lencir Zukar, SKM., M.Si. Kegiatan tersebut turut disaksikan Sekcam Bayung Lencir Aka Anggara Saputra, S.STP., M.Si., Kepala Desa Simpang Bayat Fathurohman, S.E., Ketua KWT Embun Pagi Riyanti beserta anggota, tim Community Involvement & Development dan Corporate Communication PHE Rokan Zona 1, PPL Pertanian Desa Simpang Bayat, perwakilan wartawan dari Jambi dan Sumatera Selatan, serta sejumlah undangan.

Bagi Ketua KWT Embun Pagi, Riyanti, perjalanan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama PHE Jambi Merang yang telah membantu KWT melalui peralatan, pelatihan hingga pembangunan rumah produksi.

“Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah hadir dan memberikan dukungan. Khususnya kepada tim PHE Jambi Merang yang selama ini telah bekerja sama dan memberikan berbagai bantuan kepada KWT Embun Pagi,” ujar Riyanti saat diwawancarai pada 17 September 2026.

Bantuan tersebut, kata Riyanti, menjadi penyemangat bagi anggota KWT untuk terus mengembangkan usaha. Ia berharap pembinaan tidak berhenti setelah rumah produksi berdiri.

Ia ingin KWT Embun Pagi bisa tumbuh menjadi kelompok usaha yang mampu memberikan tambahan pendapatan bagi anggotanya sekaligus membuka pasar yang lebih baik bagi petani singkong lokal.

“Kami berharap produk kami bisa dikenal tidak hanya di daerah sendiri, tetapi juga di daerah lain. Kami mohon terus diberikan bimbingan, pembinaan dan dukungan,” imbuhnya.

Harapan itu cukup beralasan. Sebab, bahan baku utama produk KWT Embun Pagi tidak perlu didatangkan dari tempat jauh. Singkong yang digunakan berasal dari masyarakat Desa Simpang Bayat sendiri.

Kepala Desa Simpang Bayat, Fathurohman, S.E., mengatakan pengolahan singkong sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sejak sebelumnya. Salah satu produk yang dikembangkan adalah tepung mocaf.

Kini, dengan adanya rumah produksi dan peralatan pendukung, masyarakat memiliki tempat yang lebih memadai untuk meningkatkan kapasitas pengolahan.

“Singkong yang digunakan berasal dari masyarakat lokal Desa Simpang Bayat. Kemudian diolah menjadi tepung dan dapat dikembangkan lagi menjadi berbagai produk makanan,” jelas Fathurohman.

Menurutnya, dukungan PHE Jambi Merang mulai dari pembangunan rumah produksi, penyediaan peralatan hingga pelatihan memberikan dorongan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi yang selama ini sudah ada.

Ia berharap produk olahan singkong tersebut perlahan bisa keluar dari pasar lokal dan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Di sisi lain, Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio Nursabdo, melihat rumah produksi tersebut sebagai salah satu tahapan penting dalam proses pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, masyarakat Simpang Bayat sebenarnya sudah memiliki potensi dan pengalaman dalam mengolah singkong. Peran perusahaan lebih diarahkan sebagai pemicu agar potensi tersebut bisa berkembang dan dikelola secara berkelanjutan.

“Rumah produksi ini menjadi salah satu milestone proses pemberdayaan masyarakat sekaligus menjadi awal perjalanan menuju kemandirian masyarakat,” kata Satrio.

Ia menekankan bahwa pemberdayaan tidak boleh berhenti pada bantuan fisik atau kegiatan seremonial. Setelah rumah produksi tersedia, KWT masih perlu memperkuat kemampuan produksi, kualitas produk, pemasaran dan membangun jaringan dengan berbagai pihak.

“Pemberdayaan masyarakat harus berkelanjutan. Kami hanya menjadi pemicu atau trigger, sementara pengembangannya membutuhkan kolaborasi pemerintah desa, kecamatan, masyarakat dan stakeholder lainnya,” jelasnya.

Satrio berharap peralatan yang telah diberikan dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga produk KWT Embun Pagi semakin berkualitas dan memiliki daya saing.

Pemasarannya pun diharapkan tidak hanya menyasar kegiatan di tingkat desa, tetapi bisa berkembang ke luar daerah hingga membuka peluang menuju pasar nasional.

PHE Jambi Merang, lanjutnya, juga membuka peluang kolaborasi lanjutan bersama pemerintah dan masyarakat agar program pemberdayaan tersebut terus berkembang.

Camat Bayung Lencir, Zukar, SKM., M.Si., melihat potensi yang dimiliki Desa Simpang Bayat sebagai sesuatu yang patut dikembangkan lebih jauh.

Ia mengatakan, tantangan KWT ke depan bukan hanya menghasilkan produk, tetapi juga bagaimana membuat produk tersebut menarik di mata konsumen.

“Jangan hanya singkong menjadi singkong, tetapi harus bisa diolah menjadi berbagai produk makanan. Inilah bentuk inovasi,” ujar Zukar.

Zukar mendorong KWT Embun Pagi mulai memperhatikan desain dan kualitas kemasan serta memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran.

Menurutnya, produk yang bagus akan lebih mudah diterima pasar apabila memiliki kemasan menarik dan identitas yang kuat.

“Kalau kemasannya bagus dan produknya berkualitas, kita harus berani bersaing dengan produk lain. Potensi ini harus kita angkat menjadi brand Desa Simpang Bayat dan Kecamatan Bayung Lencir,” katanya.

Ia bahkan berharap ke depan Rumah Produksi KWT Embun Pagi tidak hanya menjadi tempat mengolah singkong. Tempat tersebut bisa dikembangkan menjadi gerai yang sekaligus memasarkan produk-produk lokal.

Jika langkah itu terwujud, perjalanan singkong dari kebun warga hingga menjadi produk siap jual akan semakin lengkap. Petani mendapatkan pasar bahan baku, anggota KWT mendapatkan peluang usaha, sementara desa memiliki produk yang bisa dibanggakan.

Kisah KWT Embun Pagi pada akhirnya bukan hanya tentang singkong. Ini tentang bagaimana potensi sederhana yang selama ini ada di sekitar masyarakat mulai diberi nilai lebih melalui keterampilan, peralatan, pendampingan dan kemauan untuk berkembang.

Dari kebun warga di Simpang Bayat, singkong perlahan mengambil jalan baru. Bukan lagi sekadar hasil panen, tetapi menjadi bagian dari usaha masyarakat untuk naik kelas dan membangun kemandirian ekonomi desa.

Advertisement