
PALEMBANG,Buanaindonesia.com-Kemerdekaan Indonesia sudah menginjak 70 tahun. Namun, kemerdekaan itu tak semua bangsa yang menikmatinya. Tak hanya rakyat yang hidup setelah kemerdekaan, orang-orang yang berani dan mempertaruhkan nyawa demi mengusir penjajah juga tak menikmati kemerdekaan itu.
Dia adalah Rusmina, wanita renta berusia 99 tahun. Tak banyak orang mengenal wanita tua yang bungkuk itu. Sekilas jika melihatnya, dia hanya wanita dengan seluruh kulitnya keriput termakan usia. Bahkan, ada saja orang mengenalnya nenek-nenek yang seharusnya sudah dikubur dalam tanah.
Namun, siapa sangka dia adalah salah satu dari puluhan ribu pejuang yang turut terjun ke medan perang melawan penjajah. Tak diduga, Rusmina yang keriput itu tak terhitung lagi memegang bambu runcing membunuh lawan dalam pertempuran, bahkan di barisan terdepan. Entah berapa ratus tentara Belanda dan Jepang yang tewas di tangannya.
Ternyata, perjuangan dan pengorbanan wanita kelahiran Cirebon 22 Agustus 1916 itu seakan tak berarti seusai proklamasi. Jangan kan diberi penghargaan dan perhatian lebih dari negara sebagai veteran, Rusmina hanya hidup di panti jompo, sama dengan wanita-wanita renta lain.
Dengan kaki gontai dengan terbungkuk, Rusmina berusaha menghampiri wartawan saat menyambanginya di Panti Jompo Tresna Werdha Teratai Palembang, tempat dia tinggal sekarang. Wajahnya terlihat sumringah saat berjabat tangan dan langsung mempersilakan duduk di ruang tamu panti.
Meski usainya nyaris seabad, pendengaran dan penglihatan Rusmina masih tajam. Bahkan ingatan selama masih muda dan menjadi pejuang juga masih dalam. Dengan santai, Rusmina menuturkan kisah hidupnya.
Rusmina mengaku sejak umur 19 tahun menjadi pejuang. Dia nekat meninggalkan orangtua dan keluarganya di Cirebon untuk melamar menjadi tentara. Beruntung, dia mampu meyakinkan banyak orang sehingga terpilih.
“Orang bilang perempuan itu di rumah saja, ngapain ikut perang. Nyusahin aja nanti,” ujar Rusmina, Kamis (13/8).
Begitu resmi menjadi tentara, Rusmina dikirim ke beberapa daerah di Pulau Jawa untuk mengusir Belanda. Senjata yang dia gunakan hanya sepotong bambu runcing. Kemudian, Rusmina diberangkatkan ke Palembang untuk turun ke medan perang yang terkenal dengan perang lima hari lima malam tahun 1947.
Dalam perang ini, nyawanya nyaris hilang setelah tertembak senjata Benda. Beruntung, peluru datang dari samping dan hanya mengenai payudaranya sebelah kiri. Lantaran lukanya membahayakan, tim kesehatan memutuskan payudara Rusmina harus dioperasi. Belum sembuh betul, Rusmina kembali memanggul bambu runcing.
“Waktu itu semangat saya berkobar, kalo lihat Belanda atau Jepang langsung emosi, biar tak bunuh saja,” ungkapnya.
Singkat cerita, Rusmina mengatakan, semenjak ditinggal suami dan anaknya semata wayangnya tahun 1962, dia harus menelan kehidupan pahit. Semua harta benda yang dimilikinya, mulai dari penghargaan dari Presiden Soekarno, surat-surat penting hingga barang berharga miliknya, dicuri orang di kereta api dalam perjalanan dari Cirebon ke Palembang. (Baca : Rusmina Enam Tahun Tunggu Status Veteran)
“Sampai ke stasiun sini, tas saya hilang dicuri orang. Semuanya habis, tinggal baju di badan,” tuturnya.
“Saya tidak ingin dihargai sebagai pejuang, tapi saya minta jangan rusak pengorbanan kami sebelum Indonesia merdeka,” tutupnya. (Erwan – Ward)







