Pengakuan Mantan Gafatar

11.657 dibaca

PALEMBANG, Buanaindonesia.com – setelah dibujuk oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel Belman Karmudat, Mantan anggota eks Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara)  yang ditampung di Panti Sosial Karyawanita Harapan, Jalan Panti Sosial kilometer 10,  akhirnya mau memberikan keterangan terkait organisasi Gafatar tersebut.

salah seorang Anggota eks Gafatar Zainal mengaku menjadi anggota Gafatar sejak tahun 2013. keinginan dirinya turut gabung menjadi anggota Gafatar karena ingin menjadi bagian dari suatu organisasi sosial yang bergerak di bidang kesejahteraan masyarakat, ketika itu dirinya  mempunyai tekad untuk ikut mewujudkan suatu tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang damai dan sejahtera.

Advertisement

“Ketika itu saya ingin ikut berjuang memperjuangkan keadilan, kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat lewat Gafatar,” katanya kepada wartawan pada Senin (01/02/2016).

Meskipun Zainal dan istrinya ketika itu hidup berkecukupan dan merupakan PNS (Pegawai Negeri Sipil) di salah satu instansi di Palembang dengan gaji yang cukup menjanjikan, namun ia merasa terpanggil untuk melakukan gerakan sosial dalam membantu masyarakat yang kurang mampu.

Atas pertimbangan itulah, ia memutuskan menuju Sukadana, Ibu kota kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat dan menjadi anggota Gafatar di sana. Selama dua tahun aktifitasnya sebagai anggota gafatar, ia mengaku banyak melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan sesuai tugas dan fungsi Gafatar, yaitu membantu meningkatkan kesejahteraan sosial.

disinggung mengenai aliran Gafatar yang dianggap sesat, Zainal pun membantahnya. Menurutnya, secara ilmu keagamaan atau spiritual, Gafatar sama sekali tidak menyimpang dari ajaran Islam.

“Itu anggapan yang salah. Kami hanya organisasi kemasyarakatan, bukan aliran sesat seperti yang dituduhkan selama ini. Anggota kami selain Islam, ada juga yang non Islam. Bagi yang shalat, ya dia shalat. Bagi yang tidak rajin, ya tidak shalat. Kemudian juga yang non muslim beribadah sesuai kepercayaan masing-masing.” jelasnya.

Sementara itu Fahmi yang juga merupakan rekan Zainal membenarkan pernyataan rekannya, bahwa Gafatar bukan merupakan aggota sesat dan ia mengaku tidak habis pikir dengan anggapan masyarakat yang menganggap sesat.

“Kami selama di Kalimantan banyak punya kenalan, kerabat dan mereka tahu kami dan organisasi kami. Tapi mereka tidak pernah menjauhi apalagi menyakiti kami. Hanya orang-orang di luar saja yang menyebut kami aliran sesat,” ungkapnya.

Belman Karmuda selaku Kepala Dinas Sosial Provinsi Sumsel mengatakan, sebanyak sepuluh eks Gafatar yang merupakan warga Palembang dipulangkan dari Boyolali setelah sebelumnya mereka diterbangkan dari tempat perkumpulan mereka di kota Sukadana, Kabupaten Kayong Utara, Kalbar. untuk sementara para eks Gafatar akan ditampung di panti tersebut sambil menunggu pihak keluarga yang akan menjemput.

Ia pun ingin para eks Gafatar yang berjumlah sepuluh orang tersebut untuk menenangkan diri terlebih dahulu dipanti sosial tersebut, sambil memulihkan kejiwaan mereka.

“Biar mereka tenang dulu karena mereka masih trauma setelah dipulangkan ke Palembang dari Boyolali, Jawa Tengah. Kami juga menjamin keamanan mereka dan saya yakin masyarakat Palembang akan menerima dengan baik kedatangan mereka,”jelasnya

Bagaimana Menurut Anda?