Empat Proyek Anggaran DAK di Sekolah Ini Satu Minggu Mangkrak

12.342 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, BANYUASIN- Empat Proyek yang bersumber dari DAK  (Dana Alokasi Khusus) di SDN 5 Talang Kelapa kabupaten Banyuasin sudah kurang lebih satu Minggu mangkrak. 

Dari informasi yang diperoleh di lapangan mangkraknya proyek itu diakibatkan oleh para pekerja telah tengah melakukan kegiatan lain. Namun telah lebih dulu meminta izin pada pihak sekolah

Advertisement

“Mereka memang telah izin untuk libur dulu” ungkap salah satu guru yang sempet ditemui di sekolah itu. Selasa (22/8/2023).

Sementara itu Lukmansyah, Ketua Lembaga TEGAR Sumsel, usai kunjungannya di lokasi proyek, itu menyayangkan mangkraknya pekerjaan tersebut.

Dalam kesempatan itu Lukman juga menyoroti terkait banyaknya proyek di satu sekolah tersebut.

“Ini sangat luar biasa, kita temukan salah satu sekolah di wilayah Kab. Banyuasin sedang melaksanakan pembangunan besar-besaran. 4 anggaran berbeda diberikan dalam waktu yang bersamaan, dan kita sudah lihat biaya yang dikucurkan sangat fantastis” jumlahnya,

Dikatakan Lukman, sesuatu yang kurang wajar bila terdapat 4 jenis bantuan berbeda yang diberikan pada satu objek pembangunan dalam periode tahun yang sama

Menurut Lukman juga menilai seharusnya bantuan semacam itu diberikan oleh pemerintah secara bertahap. Aktivis Reformasi 90an ini juga menyoroti beberapa proyek bangunan yang menelan anggaran hingga ratusan juta namun terkesan tidak sesuai dengan fisik bangunan yang ada.

“Kalau ditotal semua bangunan ini hampir menyentuh angka 800jutaan. Ada salah satu bangunan yang menurut saya sangat mencolok sekali, coba kita fikir masa iya, anggaran untuk buat toilet saja harus menelan biaya 170jutaan, sedangkan di sekolah ini setelah kami tanyakan pada pihak sekolah terdapat 3 toilet yang tersedia, semestinya itu kan bisa direnovasi saja,” jelas Dia.

“Untuk ukuran 1 toilet dengan biaya segitu, semestinya sudah bisa beli 1 rumah KPR. Ini kan jadi menimbulkan pertanyaan, bagaimana peran pemerintah dalam menyusun anggaran dan perencanaan awalnya?,” tambahnya.

Lain dari itu, Lukman pula menerangkan kondisi ini berbanding terbalik dengan salah satu SMP 6 Talang Kelapa yang berada tidak jauh dari SD Talang Kelapa. Selama 2 tahun terakhir, siswa-siswi SMP tersebut harus rela melakukan aktivitas belajar dengan menumpang di ruang kelas sekolah lain, karena SMP 6 Talang Kelapa tidak memiliki ruang belajar yang memadai.

“Miris, masih ada fenomena yang seperti ini pada dunia pendidikan Kab. Banyuasin. Selama 2 tahun, murid-murid SMP 6 Talang Kelapa harus numpang di sekolah lain sedangkan pembangunan yang berlebih-lebihan dilakukan di SD 5 Talang Kelapa,” ungkapnya.

Sementara, salah satu orang tua murid SMP 6 Talang Kelapa membenarkan bahwa anaknya yang bersekolah di SMP tersebut harus menjalani aktivitas belajar dengan menumpang di sekolah lain. Namun dirinya telah meminta kepada pihak sekolah agar segera memberikan solusi atas permasalahan tersebut.

“Memang sudah sejak lama pihak sekolah menumpang di sekolahan lain. Itu dikarenakan lokal SMP 6 Talang Kelapa tidak cukup untuk menampung siswa,” ucap Yadi.

Bagaimana Menurut Anda?