Petani Karet Gigit Jari

14.046 dibaca

BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Anjloknya harga komiditi perkebunan, seperti karet membuat petani karet di Kabupaten Banyuasin menjerit. Tak terkecuali yanv dialami oleh petani karet di Desa Nusa Makmur Kecamatan Air Kumbang, setahun lebih mereka menderita akibat murahnya harga jual karet. Saat ini, harga karet bertahan di level Rp 4.000/Kg.

Asep, salah seorang petani desa setempat mengaku masih bertahannya harga karet petani di level Rp 4.000/Kg ini sudah sekitar tiga bulan lebih. Meski dirinya berharap agar harga karet kembali normal, namun dia juga berharap agar tidak makin anjlok, hingga pada akhirnya tidak laku dijual.

Advertisement

“Sekarang serba sakit, sawit murah, karet juga murah. Tidak kita jual, lantas kita bisa makan apa. Sebab karet ini menjadi satu-satunya mata pencaharian kami, hampir seluruh penduduk di desa ini berkebun karet. Dalam setahun terakhir ini saja, karet makin turun, bukannya makin mahal, malah anjlok. Dan sekarang hanya Rp 4.000/Kg,” keluhnya.

Sementara itu, akibat murahnya harga karet, petani yang biasanya menjual karetnya ke penadah seminggu sekali, namun saat ini sebulan sekali. Hal ini untuk mengurangi biaya produksi lantaran menyadap karet yang dilakukan oleh buruh.

“Sekarang jualnya bulanan, sebab kalau harus disadap setiap hari dan dijual seminggu sekali, produksi karetnya yang sedikit. Karena selama musim kemarau ini, getah karet berkurang karena kering. Makanya saya jual karet bulanan, bukan karet mingguan,” ujarnya.

Dia mengakui, jika harga karet mingguan lebih murah dibandingkan karet bulanan, Rp 7.200/Kg, meski begitu dirinya berharap agar pemerintah dapat menstabilkan harga karet petani. Mengingat anjloknya harga komoditi perkebuna ini sudah cukup lama, sementara tidak ada respon tanggap dari pemerintah.(muh)

Bagaimana Menurut Anda?