BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Akibat kemarau panjang, produksi sawah petani di Desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan turun drastis. Sejumlah petani mengaku padi yang dihasilkan hanya rata-rata 50 %, bahkan ada hanya berhasil 30 % saja.
Seperti yang diakui Alamsyah, menurut dia, dari padi yang telah dipanen, biasanya bisa menghasilkan 100 kaleng beras, kini hanya mampu 25 kaleng saja. Tentu saja kondisi ini membuat dirinya dan sejumlah petani lainnya mengeluh, lantaran produksi beras mereka menurun tajam akibat kemarau.
“Sebab, seharusnya padi mendapatkan pasokan air yang cukup saat bulir-bulirnya mengisi. Nah, karena kemarau ini, padi yang mulai berisi tak bisa berisi sepenuhnya karena kekurangan air. Biasanya menunduk, tapi sekarang ini tidak. Sebab banyak yang kosong. Panen kali ini merugi, hanya dapat 25 kaleng, padahal biasanya 100 kaleng,” ungkap dia, Jumat (4/9).
Senada dikatakan Reni, petani lainnya, jika tahun-tahun sebelumnya satu hektare sawah padi bisa menghasilkan 7 hingga 8 ton padi, namun sekarang hanya 3 sampai 4 ton saja. Kemarau yang cukup panjang ini membuat seluruh petani di desanya kebingungan.
“Memang pada waktu itu kita mendapatkan bantuan pompa air, tapi bantuan itu telat. Sebab kondisi padi waktu itu sudah mulai berisi. Coba kalau sebelumnya diberikan bantuan. Pasti produksi padi kita akan normal, tidak sampai anjlok seperti ini,” ucapnya.
Dikonfirmasi Kades Gelebak Dalam, Khoirul Anwar membenarkan hal tersebut. Menurut dia, panem tahun ini memang cukup menyakitkan petani. Bahkan biasanya satu hektare padi bisa menghasilkan sampai 100 kaleng, namun kali ini hanya 25 kaleng saja, bahkan ada yang hanya bisa dipanen separuhnya saja.
“Sebab, bulir-bulir padi tidak ada berasnya, banyak yanv kosong. Misalnya dalam satu rumpun padi ada 50 bulir padi, tapi sekarang hanya 20 bulir saja yang berisi. Makanya panen tahun ini sangat jauh dari yang diharapkan,” imbuhnya.(muh)







