BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Keberhasilan Kabupaten Banyuasin meraih penghargaan di bidang ketahanan pangan dari Kementrian Pertanian pada tahun yang lalu, tak terlepas dari peranan petani. Tak terkecuali petani sawah lebak yang ada di Kecamatan Rambutan.
Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian SH belum lama ini menyampaikan kebanggaannya akan prestasi yang cukup membanggakan itu. Terlebih saat ini Kabupaten Banyuasin menjadi penyumbang beras terbesar bagi stok Provinsi Sumsel dengan jumlah produksi lebih dari 1 juta ton per tahun. Guna mempertahankan diri sebagai penyumbang terbesar itu, tentunya harus ditunjang dengan ketersediaan infrastruktur pertanian.
“Penghargaan itu diraih bukan karena pemerintah semata, tetapi ada peran serta petani dan kerja keras petani. Salah satunya sawah padi lebak yang juga menyumbang surplus kita, termasuk di Desa Sako, Gelebak Dalam, dan lain sebagainya. Maka dari itu kami akan tetap memperhatikan dan memprioritaskan perbaikan infrastruktur pertanian,” ungkap Yan Anton.
Potensi pertanian di Kecamatan Rambutan ini sangat tinggi untuk dikembangkan menjadi Indeks Pertanaman (IP) 200 atau dua kali tanam dalam setahun. Mulai dari Desa Sako hingga ke Desa Gelebak Dalam. Namun yang patut menjadi perhatian adalah perbaikan infrastruktur berupa perbikan tanggul dan saluran.
“Karena sawah lebak ini masih sangat besar potensinya untuk menambah surplus beras kabupaten. Maka dari itu, petani harus percaya bahwasanya pemerintah kabupaten akan tetap memperhatikan rawa lebak,” ucapnya.
Seperti yang diketahui, saat ini Desa Sako menjadi salah satu desa yang mulai tahun ini mengembangkan IP 200 padi, dan diperkirakan pada bulan depan, ratusan hektare sawah yang telah ditanami padi itu akan mulai dipanen. Dan petani pun optimis jumlah produksi beras pada masa uji coba ini akan sangat besar mengingat tingkat keberhasilannya yang sangat memuaskan.
Editor: Karnadi








