Syamsalis dan Afdhal : Katakan Praktek Riba Sangat Mengkhawatirkan

9.027 dilihat
Pendiri Sabana Foundation, Drs. H. Syamsalis. Selasa 27 Oktober 2020

BUANAINDONESIA- Praktek riba dimana pinjam uang dengan bunga tinggi melalu rentenir atau lintah darat yang terjadi di banyak daerah termasuk di Sumatera Barat dan menimpa sebagian masyarakat termasuk ada di antara alumni PGAN/MAN/MAPK/MAKN Koto Baru Padang Panjang bisa segera diatasi dan dihentikan dengan cara himpun warga yang terlibat dalam Usaha Kecil Menangah dan Koperasi (UMKM) serta bantu permodalan mereka tanpa riba.

“Ambo (saya) sudah melakukannya terhadap 1.500 UMKM. Mereka diberikan bantuan usaha dan permodalan dengan bagi hasil yang lebih banyak, alhamdulillah sejak itu tidak ada lagi yang meminjam uang kepada rentenir,” kata Drs. H. Syamsalis, salah satu pengusaha sukses yang merupakan alumni MAN Koto Baru Padang Panjang pada Diskusi Interaktif yang dilakukan secara virtual, Selasa 27 Oktober 2020.

Advertisement

Pada diskusi dengan tema RIBA DAN KEKUATAN UMKM tersebut, pembicara lainnya, Afdhal Azmi Jambak, SH menyampaikan keprihatinannya yang mendalam dengan marak dan semakin membahayakannya praktek riba yang dilaksanakan para rentenir.

Dikatakan, rentenir itu meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi, rata-rata 20 persen untuk 40 hari dan ada juga yang untuk dua bulan atau 2,5 bulan. Korbannya pun umumnya rakyat kecil yang sangat membutuhkan dana untuk modal usaha dan memenuhi keperluan mereka.

“Praktek riba sudah sangat mengkhawatirkan. Baik di Sumatera Barat maupun daerah lainnya termasuk di Palembang, Sumatera Selatan. Di Ranah Minang dimana Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah kenyataannya perbuatan melanggar kitabullah itu terjadi sejak bertahun-tahun lalu dan semakin meluas sampai kini tanpa ada stake holder yang mau memberantasnya. Kita harus melakukan gerakan memberantas riba ini, moga adinda Syamsalis, salah satu pengusaha sukses mau turun tangan,” kata Afdhal yang Pemimpin Redaksi Koran TRANSPARAN MERDEKA dan selalu peduli dengan permasalahan rakyat kecil tersebut.

Menurut Afdhal, praktek riba itu melanda para pedagang di pasar-pasar sampai ke kampung-kampung di Sumatera Barat (Sumbar). Tidak semuanya terlibat riba, tetapi jumlah yang terlibat riba itu cukup banyak. Pinjaman dengan bunga tinggi ke rentenir itu terjadi lantaran solidaritas dan kebersamaan warga masyarakat yang kurang, disamping kesulitan memperoleh pinjaman dari lembaga keuangan syariah.

Sesungguhnya riba itu diharamkan Allah. Melakukan riba disebutkan dalam hadis seperti berzina dengan ibu kandung sendiri.

“Akan bahaya sekali jika ada yang menuding, banyak orang di Sumatera Barat yang berzina dengan ibu kandung sendiri dengan terlibat dalam praktek riba,” tandas Afdhal mengingatkan.

Dilanjutkan “Saya dan kawan-kawan telah memulai membentuk lembaga mengatasi riba tersebut dengan mendirikan Koperasi Syariah Talago Syariah. Kita himpun dana dan salurkan kepada yang berhak dan membutuhkan. Kita harapkan semua pihak terkait termasuk pemimpin seperti gubernur, wakil-wakil rakyat, ninik mamak, alim ulama, dan cadiak pandai mau membangun gerakan memberantas riba. Caranya bukan dengan slogan saja, tetapi aksi nyata. Para aghnia (yang kaya) yang dikaruniai Allah rezeki lebih menyediakan dananya untuk dipinjamkan tanpa bunga membantu rakyat yang selama ini terjerat riba. Tentu dengan manajemen khusus,” kata alumni MAN Koto Baru Padang Panjang yang juga advokat ini.

Syamsalis sebagai pengusaha sukses, memiliki jaringan bisnis Sabana Friec Chicken di 14 provinsi di tanah air menegaskan, dia secara pribadi telah melakukan pemberantasan riba sejak beberapa tahun lalu.

“Saya himpun 1.500 orang yang bergerak di Usaha Kecil Menengah dan Koperasi (UMKM). Kita bangun kerjasama dengan usaha gerobak. Permodalan dibantu dan mereka semua dapat keuntungan yang jauh lebih banyak. Alhamdulillah sampai kini, tidak ada lagi yang pakai riba,” katanya.

Sebagai pengusaha muslim, Syamsalis yang juga calon kuat Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PGAN, MAN, MAPK, MAKN Koto Baru Padang Panjang ini mengatakan, riba yang sudah sangat memprihatinkan dan merusak kesejahteraan masyarakat itu harus diberantas.

“Saya kira dengan IKA kita bisa memberantas lebih banyak. Kita support lembaga koperasi syariah yang sudah ada dan membuat lembaga-lembaga keuangan syariah. Untuk permodalan, saya insya Allah bisa mengupayakannya. Banyak perbankan syariah yang mau membantu dan saya insya Allah siap merealisasikannya,” katanya.

Pendiri Sabana Foundation, sebuah yayasan amal ini mengajak semua tokoh potensial yang merupakan alumni PGAN, MAN, MAPK dan MAKN serta kalangan pengusaha lainnya untuk membangun kekuatan bersama.

“Dengan bersama, kita bisa mengatasi permasalahan lebih banyak,”katanya seraya menambahkan untuk mewujudkan semua itu yang diperlukan adalah niat suci ibadah karena Allah.

Syamsalis, yang juga pendiri pondok pesantren tahfizh di Cipanas, Cianjur di atas tanah 2,7 hektar menambahkan pula sebagai pemimpin dia selalu berusaha membagi kebahagiaan dengan para pegawai yang bekerja di perusahaannya.

“Kalau anak saya sarjana, maka anak-anak karyawan saya harus sarjana pula. Kita berikan beasiswa. Dulu, kita berikan umroh kepada pegawai, sekarang kita ubah menjadi haji. Sebab yang wajib itu adalah menunaikan ibadah haji. Saya dan keluarga programkan agar semua pekerja di perusahaan bisa menunaikan haji,” katanya.

Selain pemberdayaan ekonomi masyarakat UMKM, Syamsalis juga berkeinginan potensi luar biasa alumni PGAN/MAN/MAPK/MAKN Koto Baru Padang Panjang dapat dihimpun dengan baik untuk melakukan kegiatan-kegiatan bermanfaat bagi para alumni, almamater dan rakyat banyak.

“Dengan kekuatan yang dimiliki alumni PGAN, MAN, MAPK. MAKN yang luar biasa di berbagai bidang, kita bisa mengubah keadaan di Sumatera Barat dan keadaan di negeri Indonesia tercinta ini menjadi lebih baik dengan aksi nyata. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena itu, kita wajib peduli. Yang kaya wajib menafkahkan sebagian hartanya. Yang cerdas, wajib membagikan ilmunya. Yang kurang beruntung, fakir, miskin atau dhuafa wajib menerima haknya agar suatu saat bisa berubah menjadi kaya. Kita tiru sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab yang mencari tahu orang-orang yang susah dan mengatasinya,” kata Afdhal menimpali.

Sejumlah peserta diskusi menyambut baik rencana dan keinginan Syamsalis. Kepala MAN 2 Padang Panjang (MAN Koto Baru), Agustamam, S.Ag sangat menyambut baik pemikiran pembicara. Dia berharap, agar alumni bisa bermanfaat lebih kepada sesama alumni dan juga untuk almamater.

“Saya siap audiensi dengan Ketua Umum dan pengurus terpilih nanti untuk membangun sinergitas,” katanya.

Agustaman menambahkan, masa puncak prestasi PGAN/MAN/MAPK/MAKN tersebut adalah pada tahun 1987. Dan, Syamsalis merupakan alumni MAN Koto Baru tamatan tahun 1987.

Syamsalis juga menjelaskan, dengan menghimpun 1500 orang mitra dengan 2.000 gerobak, omset UMKM tersebut sudah bisa mencapai Rp.40 sampai Rp50miliar sebulan. “Bayangkan ketika dikumpulkan UMKM ini akan menjadi kekuatan yang sangat luar biasa,” katanya. (*)

Advertisement