Telat Bayar Pinjol ?, Siap – Siap Rumahmu Kebanjiran Orderan Ojol Fiktif

782 dilihat
Ilustrasi berita. Sumber : tim kreatif Buana Indonesia

BUANAINDONESIA.CO.ID, TANGERANG – Berbagai cara dilakukan oleh debt collector demi mendapat komisi dari perusahaan pinjaman online, termasuk mengancam nasabah mengirim ribuan ojol ke rumah mereka jika nasabah tidak kunjung membayar pinjamannya.

Hal ini dikeluhkan Wati ( bukan nama sebenarnya), warga Kota Tangerang, Banten saat diwawancarai Buana Indonesia, Selasa, 11 Agustus 2026 .

Advertisement

” Mereka berkata kasar, semua kebun binatang disebut, termasuk mengancam mengirim ratusan ojol ( mengirim orderan fiktif menggunakan ojek online) ke rumah saya kalau saya tidak melunasi pinjaman hari itu juga, ” kata Wati.

Wati menambahkan, debt collector dari salah satu perusahaan pinjol itu tidak mendengar penjelasannya terkait pinjaman dirinya .

” Saya tanya ke dia, mana bukti kalau dia meminjam, dapat data dari saya. Kenapa saya minta, karena dia tidak mau sebut perusahaannya. Saya tanya ke dia dari perusahaan apa tidak menjawab. Saya memang punya pinjaman, tapi itu baru telat beberapa hari, tidak sampai lama, ” tambahnya.

Screen shot WhatsApp yang diterima Wati berisi teks debt collector menebar ancaman kirim ribuan ojol.

Lanjut Wati dia akhirnya mempertanyakan legalitas perusahaan pinjaman online itu, namun jawaban yang diterimanya sangat kasar.

” Selain kata kasar juga, collector itu bilang katanya perusahaannya berijin dan diawasi OJK. Lalu saya mulai mencari tahu pinjaman online yang saya gunakan, saya curiga dengan 2 aplikasi pinjol .  Saya juga cari di google memang iya mereka diawasi OJK dan berijin, tapi heran kok aturan yang mereka pakai tidak sesuai aturan gitu, ” jelasnya.

Wati berharap OJK atau pihak berwenang lain menertibkan perusahaan – perusahaan pinjol yang menggunakan jasa preman sebagai debt collector

” Saya yakin itu preman , minimal orang tidak berpendidikan. Menggunakan kata – kata tidak pantas apakah itu beretika. Itu melanggar hukum tidak sih? . Mau mengadu juga bingung, apa aduan saya digubris atau tidak,” ujar Wati.

 

Advertisement