Tergiur Untung Rp1 Juta per iPhone, Iwan Malah Kehilangan Rp1,65 Juta: Kartu ATM Diduga Ditukar di Jakarta

1.666 dilihat

BUANAINDONESIA.CO.ID JAKARTA – Niat Iwan membantu seorang pria yang mengaku berasal dari Singapura justru berubah menjadi pengalaman yang tidak akan mudah dilupakannya.

Alih-alih mendapatkan keuntungan dari tawaran bisnis jual beli iPhone, uang sekitar Rp1,65 juta di rekening Iwan raib. Ia juga baru menyadari bahwa kartu ATM yang berada di tangannya ternyata bukan kartu miliknya.

Advertisement

Peristiwa tersebut diduga merupakan modus penukaran kartu ATM yang dilakukan dengan memanfaatkan kelengahan korban.

Kejadian bermula ketika Iwan sedang duduk santai sambil merokok di depan sebuah hotel usai mengikuti kegiatan di Jakarta. Kamis (27/08/26) Saat itu, ia didatangi seorang pria yang mengaku berasal dari Singapura.

Keduanya kemudian berbincang dan saling memperkenalkan diri. Iwan menyebut dirinya berasal dari Palembang. Mendengar hal tersebut, pria itu mengaku memiliki hubungan dengan Palembang. Ia bahkan mengatakan bahwa dalam waktu dekat kapalnya akan bersandar di Pelabuhan Boom Baru Palembang.

Pria tersebut juga mengaku sebagai pemimpin kapal laut dan sedang mencari orang Palembang yang dapat membantunya memasarkan telepon seluler di Palembang.

Dari percakapan itulah cerita bisnis iPhone mulai muncul. Pria tersebut meminta bantuan Iwan untuk mengantarkannya ke kawasan Roxy. Alasannya, ia hendak menjual sejumlah iPhone yang disebut berada di hotel tempatnya menginap.

Saat pembicaraan berlangsung, muncul seorang pria lain yang berpura-pura meminjam korek api kepada Iwan. Pria tersebut mengaku tinggal di Jakarta. Setelah mendengar percakapan Iwan dengan pria yang mengaku dari Singapura, ia kemudian menawarkan diri membantu mengantarkan pria tersebut ke Roxy menggunakan mobil. Ia beralasan sedang mengantar pamannya.

Iwan akhirnya ikut bersama mereka. Di dalam mobil ternyata sudah terdapat dua orang lainnya. Salah satunya diperkenalkan sebagai paman dari pria yang sebelumnya meminjam korek api, sedangkan seorang lainnya berperan sebagai sopir.

Di sinilah rasa percaya Iwan perlahan semakin terbentuk. Pria yang mengaku sebagai paman tersebut mengatakan dirinya berasal dari Kalimantan. Ia juga mengaku memiliki istri yang berasal dari Sungsang, Banyuasin.

Mendengar cerita tersebut, Iwan merasa memiliki kedekatan karena dirinya berasal dari Palembang dan memiliki keterkaitan dengan wilayah Banyuasin.

Kesamaan daerah itu membuat suasana menjadi semakin akrab. Iwan pun tidak menyangka bahwa orang-orang yang baru dikenalnya tersebut diduga sedang menjalankan sebuah modus penipuan.

Di dalam mobil, pria yang sebelumnya meminjam korek kemudian berpura-pura menceritakan kepada pamannya bahwa ada seseorang dari Singapura yang hendak menjual iPhone dengan harga murah.

Pria yang disebut sebagai paman kemudian terlihat tertarik. Ia bahkan mengaku ingin membeli dalam jumlah besar, yakni 50 unit iPhone terbaru.

Untuk meyakinkan Iwan, pria tersebut menunjukkan saldo rekeningnya melalui aplikasi perbankan di telepon selulernya. Ia seolah ingin membuktikan bahwa dirinya mempunyai cukup uang untuk melakukan transaksi pembelian puluhan iPhone tersebut.

Situasi semakin meyakinkan ketika pria yang mengaku berasal dari Singapura meminta bukti bahwa calon pembeli benar-benar memiliki uang. Tidak berhenti di situ, pria yang mengaku sebagai paman kemudian menawarkan keuntungan kepada Iwan.

Iwan disebut bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp1 juta untuk setiap unit iPhone apabila transaksi tersebut berhasil. Pria yang mengaku dari Singapura kemudian mengatakan dirinya tidak memiliki rekening dan tidak memahami transaksi perbankan di Indonesia.

Ia lalu meminta bantuan Iwan. Jika iPhone berhasil terjual, uang hasil penjualan disebut dapat diterima terlebih dahulu melalui rekening Iwan. Setelah itu, uang ditukat ke Dolar lalu dikirimkan dirinya.

Sebagai imbalannya, Iwan dijanjikan komisi sekitar 15 persen dari nilai penjualan. Bagi Iwan, tawaran tersebut tentu terdengar menggiurkan.

Namun, tanpa disadari, pembicaraan soal rekening dan transaksi perbankan justru menjadi pintu masuk ke dugaan modus penukaran kartu ATM.

Dalam rangkaian percakapan itu, pria yang mengaku dari Singapura kembali menanyakan kemampuan keuangan pria yang disebut sebagai pamannya.

Pria tersebut menunjukkan saldo rekening melalui telepon selulernya. Setelah itu, perhatian mulai diarahkan kepada Iwan.

Ia ditanya apakah memiliki rekening dan menggunakan aplikasi perbankan yang sama.

Iwan kemudian diminta menunjukkan bahwa dirinya benar-benar memiliki rekening. Pelaku juga menanyakan apakah pria yang mengaku sebagai paman dan Iwan memiliki kartu ATM.

Pria yang mengaku sebagai paman menunjukkan kartu ATM miliknya. Ia kemudian menanyakan hal serupa kepada Iwan.

Tak lama kemudian, pria yang mengaku dari Singapura beralasan tidak memahami cara melakukan transaksi melalui mesin ATM di Indonesia.

Ia meminta diajari cara mengecek saldo. Hal itu berguna untuk mengecek saat transaksi telah dilakukan.

Pria yang mengaku sebagai paman kemudian meminta pria yang sebelumnya meminjam korek untuk membantu mengajarkan cara mengecek saldo ATM.

Iwan pun diajak bersama-sama menuju mesin ATM.

Awalnya, pria yang meminjam korek memasukkan kartu ATM dan menunjukkan isi rekeningnya melalui mesin ATM.

Setelah itu, giliran Iwan diminta melakukan hal yang sama menggunakan kartu ATM miliknya.

Dalam proses tersebut, perhatian Iwan diduga dialihkan sehingga terjadi pertukaran kartu.

Kartu milik pria tersebut diberikan kepada Iwan, sementara kartu milik Iwan berada di tangan pria itu.

Diduga, pada saat itulah kartu ATM Iwan ditukar dengan kartu lain tanpa disadarinya.

Modus tersebut menjadi sulit disadari karena setelah proses berlangsung, Iwan tetap memegang sebuah kartu ATM.

Ia tidak langsung mengetahui bahwa kartu yang berada di tangannya bukan lagi kartu ATM miliknya.

Setelah proses di ATM selesai, mereka kembali ke mobil.

Sandiwara transaksi jual beli iPhone ternyata masih berlanjut.

Pria yang mengaku sebagai paman kembali menanyakan apakah transaksi jual beli HP dapat diteruskan. Ia mengatakan akan menjemput teknisi untuk memeriksa iPhone yang akan dibeli.

Sementara pria yang mengaku berasal dari Singapura menyatakan bahwa setelah mereka mengetahui cara mengecek saldo, transaksi dapat dilanjutkan.

Iwan kemudian diminta menunggu di tempat semula. Sekalian dimintai tolong menyiapkan satu kamar di hotel tempat dimana mereka pertama kali bertemu. sebagai tempat transaksi.

Sementara itu, mereka mengaku hendak menjemput teknisi sekaligus mengambil iPhone yang sebelumnya disebut berada di hotel.

Iwan pun menunggu. Namun, waktu terus berlalu. Orang-orang yang sebelumnya menjanjikan transaksi tersebut tidak kunjung kembali.

Kecurigaan Iwan akhirnya muncul. Ia kemudian mengecek rekeningnya. Saat itulah Iwan mendapati sesuatu yang membuatnya terkejut.

Uang sekitar Rp1,65 juta di rekeningnya telah raib. Kecurigaan semakin kuat ketika Iwan memeriksa kartu ATM yang masih berada di tangannya. Ternyata, kartu tersebut bukan kartu ATM miliknya.

Saat itulah Iwan menyadari bahwa kartu ATM miliknya diduga telah ditukar ketika dirinya mengikuti proses pengecekan saldo di mesin ATM.

Peristiwa yang awalnya terlihat seperti peluang mendapatkan keuntungan dari bisnis iPhone tersebut akhirnya justru membuat Iwan kehilangan uang yang berada di rekeningnya.

Setelah menyadari kejadian tersebut, Iwan kemudian menghubungi pihak bank untuk melakukan pemblokiran rekening sebagai langkah pengamanan.

Pengalaman Iwan menjadi pengingat bahwa modus penipuan tidak selalu diawali dengan permintaan uang secara langsung.

Pelaku dapat membangun kepercayaan secara perlahan, mulai dari perkenalan, mengaku berasal dari luar negeri, cerita pekerjaan, kesamaan daerah, tawaran bisnis, harga murah, hingga iming-iming keuntungan besar.

Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati ketika berkenalan dengan orang yang baru ditemui, meskipun orang tersebut mengaku berasal dari daerah yang sama atau memiliki hubungan dengan daerah asal kita.

Yang tidak kalah penting, jangan pernah memberikan kartu ATM kepada orang lain. Kartu ATM juga sebaiknya tidak berpindah tangan, termasuk ketika seseorang menawarkan bantuan untuk mengecek saldo atau melakukan transaksi.

Jika mengalami kesulitan menggunakan mesin ATM, gunakan bantuan petugas resmi bank. Jangan memberikan PIN, kode OTP, password, maupun informasi perbankan kepada siapa pun.

Kisah Iwan menjadi pelajaran penting: jangan sampai tergiur keuntungan yang belum pasti, tetapi justru kehilangan uang yang sudah ada di rekening..

Advertisement