JAKARTA, Buanaindoneaia.com- Setiap manusia memiliki potensi untuk terkena Penyakit Kardiovaskular. Penyakit tersebut berkembang seiring dengan bertambahnya usia seseorang, meskipun tingkat progresi dan keparahannya bisa berbeda-beda di setiap orang.
Dr. Peter Ting, Senior Cardiologist Gleneagles Hospital and Mount Elizabeth Novena Hospital Singapore dalam acara Health Talk bertajuk Memahami Penyakit Kardiovaskular di The Energy Building Jakarta rabu (02/12/15 mengungkapkan, gejala awal penyakit kardiovaskular tidak akan terlihat. Namun, hasil setudi menunjukan 90% penyakit kardiovaskular disebabkan 9 faktor.
Risiko utama yaitu, tingkat kolesterol, kebiasaan merokok, diabetes, hipertensi, kegemukan di bagian perut (buncit), tingkat aktivitas fisik, tingkat stress, nutrisi buruk dan kebiasaan mengonsumsi alkohol.
Bila pernah mengalami 9 faktor itu, Tindakan medis yang bisa dilakukan antara lain Intervensi Koroner Perkutan (Percutaneus Coronary Intervention), Pembedahan Coronary Arteri Bypass Grafting (CABG) dan rangkaian pengobatan.
Selanjutnya Dr Peter Ting menjelaskan salah satu hal yang paling penting dalam menghadapi penyakit kardiovaskular yaitu tindakan pencegahan.
“Pencegahan dapat dilakukan baik sebelum atau sesudah timbulnya gejala dan yang terpenting pencegahan itu harus mampu menyentuh akar permasalahan. Terapi gaya hidup atau rehabilitasi penyakit jantung menyasar faktor lingkungan yang bisa dimodifikasi,” jelas Dr. Peter Ting
Salah satu langkah pencegahan yang disarankan adalah pengecekan hipertensi, kolesterol, menjaga berat badan ideal dan berhenti merokok. Hipertensi dan merokok adalah dua penyebab kematian yang menakutkan. Hipertensi yang terlambat dideteksi berisiko kerusakan pada beberapa organ tubuh, seperti gagal jantung, gagal ginjal, serangan jantung, stroke hingga kebutaan.
Jika kedua hal ini berhasil dideteksi dini, mungkin tidak membutuhkan pengobatan khusus dan bisa disembuhkan dengan terapi gaya hidup. Penanganan yang tepat dan diiringi perubahan gaya hidup bahkan dapat mengembalikan kondisi organ yang rusak ke tingkat risiko yang dapat dikontrol. Selain itu, tingginya kolesterol jahat (LDL) juga menjadi salah satu penyebab penyakit kardiovaskular karena mengakselarasi kerusakan pembuluh darah.
Kolesterol tinggi dapat diturunkan dari faktor genetika, sehingga penting untuk menelusuri riwayat penyakit keluarga. Jika faktor genetika memang ditemukan, maka seluruh anggota keluarga sebaiknya melakukan deteksi dini, bahkan yang berusia muda.
Biasanya penanganan kolesterol tinggi perlu dilanjutkan dengan terapi statin (obat lipid) yang agresif dan modifikasi pola makan. Untuk mendukung tahap preventif ini, di Gleneagles Hospital dan Mount Elizabeth Novena Hospital saat ini telah dikembangkan teknik-teknik pencitraan non invasif untuk membantu evaluasi dan membuat keputusan yang lebih baik, antara lain Contrast Echocardiography dan 3D Echocardiography.
“Kesadaran dan deteksi dini yang akurat akan sangat menolong dalam mencegah komplikasi penyakit kardiovaskular tahap lanjut yang parah,” ungkapnya
Dr. Peter Ting menjelaskan. Salah satu poin penting yang perlu diperhatikan dengan serius adalah proses rehabilitasi dari penyakit jantung yang melibatkan terapi gaya hidup. Terapi ini merupakan bagian integral dari penanganan kardiovaskular yang menyeluruh.
Penanganan apapun tidak bisa dianggap menyeluruh tanpa terapi gaya hidup ini. Terapi gaya hidup berkontribusi untuk menciptakan hasil jangka panjang yang lebih baik, meningkatkan kelangsungan hidup dan mengurangi kemungkinan serangan dan kematian akibat serangan jantung, serta menolong stabilisasi dan bahkan mengembalikan kondisi hingga dapat terus dikontrol.
“Terakhir, Anda memiliki peran penting untuk berkolaborasi dengan dokter Anda untuk melindungi jantung dan pembuluh darah Anda,” tutup Dr. Peter Ting. (rls)
Editor: Karnadi








