
MUSI BANYUASIN, Buana Indonesia – Terkait laporan masyarakat yang dimuat beberapa media mengenai keluhan matinya ratusan ternak ikan patin dalam kerambah petani di desa Petaling, kecamatan Lais, kabupaten Musi Banyuasin beberapa waktu lalu yang telah mengakibatkan ratusan peternak ikan patin di tepian sungai Batanghari Leko Desa Petaling, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin itu merasa was-was,
Sebab dalam dua bulan terakhir, beberapa peternak kehilangan ratusan bahkan ribuan ikan berusia 2-3 bulan yang dipelihara dalam kerambah karena mati tanpa diketahui penyebabnya. Menurut informasi warga, belum mengetahui secara pasti penyebab matinya ikan-ikan ini. Jika dikalkulasi dalam 1,5 bulan terakhir sudah ribuan ikan milik mereka yang mati sia-sia. Masyarakat pun menduga, kematian ikan-ikan ini dipengaruhi musim hujan yang membuat keruh sungai.
Dinas Perikanan kabupaten Musi Banyuasin melalui kepala bidang produksi, M Syahrin saat dikonfirmasi via Telpon celulernya mengatakan akan segera menurunkan team untuk menindak lanjuti penyebab kematian ternak ikan patin masyarakat desa Petaling tersebut sekaligus akan mengambil sample ikan ternak yang mati dan ikan yang masih hidup untuk dibawa ke balai karantina di Palembang, “kita akan bawa ikan patin yang masih hidup dan yang sudah mati ke balai karantina Palembang, untuk diteliti apa penyebab sebenarnya atas kematian ikan-ikan tersebut” ungkapnya.
“Untuk sementara ini kita baru bisa menyimpulkan bahwa kematian ikan-ikan tersebut akibat dari dampak perubahan cuaca saat ini sering turun hujan, mengakibatkan air sungai menjadi keruh. Kemungkinan lainya juga diakibatkan dari sampah rumah tangga masyarakat yang dibuang ke sungai” imbuh M Syahrin.
Lebih lanjut Syahrin mengatakan, atas kerugian yang dialami oleh warga desa Petaling tersebut pihaknya akan memberikan bantuan berupa bibit ikan.
Disinggung atas keluhan masyarakat Petaling terkait adanya pabrik pellet yang saat ini tidak beroperasi dan terkesan mubazir, M Syahrin mengatakan siap untuk memproduksi pakan ikan (pellet) untuk kebutuhan masyarakat sekitar, “kita siap produksi pellet, jika adanya pesanan dari masyarakat. karena tidak mungkin produksi secara kontinu tanpa adanya pesanan, hal ini dianggap mubazir dan tentunya hal ini akan berdampak terhadap modal produksi” jelas M Syahrin. (bi)






