Peternak Ikan di Desa Petaling Merugi

11.065 dilihat

MUSI BANYUASIN, – Musim penghujan akhir-akhir ini mengakibatkan ratusan peternak ikan patin di tepian sungai Batangharileko Desa Petaling, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatra Selatan merasa was-was, sebab dalam dua bulan terakhir, beberapa peternak kehilangan ratusan bahkan ribuan ikan berusia 2-3 bulan yang dipelihara dalam kerambah karena mati tanpa diketahui penyebabnya.

Warga mengatakan belum mengetahui secara pasti penyebab matinya ikan-ikan ini. Jika dikalkulasi dalam 1,5 bulan terakhir sudah ribuan ikan milik mereka yang mati sia-sia. Masyarakat pun menduga, kematian ikan-ikan ini dipengaruhi musim hujan yang membuat keruh sungai.

Advertisement

“Biasanya dalam satu kerambah dapat menampung ratusan bahkan ribuan ikan, tergantung dengan ukuran kerambah. Anehnya, dari jumlah itu terkadang menyisakan 17-25 ekor saja. Yang lainnya mati semua,” cetus Jamal, salah seorang peternak ikan.

Menurut Jamal, dia bukan satu-satunya peternak yang harus merugi lantaran banyak ikan peliharaannya yang mati. Ada Lubis dengan 30 ribu ikan, dan Alpian sekitar 15 ribu, juga bernasib sama disamping beberapa peternak lainnya.

“Sampai sekarang kami tidak tahu sebabnya. Kalau dibilang kena racun, kemungkinan tidak, sebab masih ada ikan yang hidup. Kami yakin ini pengaruh air yang kotor berlumpur saat musim hujan,” terangnya.

Saat Media mendatangi lokasi tempat ratusan warga Petaling beternak ikan dalam kerambah. Tampak ratusan kerambah berbentuk segi empat yang terbuat dari kayu dan sebagian bambu. Kerambah-kerambah ini diletakkan di pinggir sungai tidak jauh dari tempat warga mandi, mencuci termasuk buang hajat di jamban. Hampir setiap warga yang tinggal di pinggir sungai, memiliki kerambah ikan patin.

Ida, salah seorang warga setempat mengatakan, ternak ikan patin di Petaling ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan itu milik warga perorangan, bukan kelompok. Peternak sebelumnya membeli bibit ikan berusia sekitar 1-2 bulan di Betung (Banyuasin) ataupun di Palembang dengan harga Rp 300 perekor untuk saat ini.

Ikan dipelihara dalam kerambah dan diberi makanan berupa pelet yang dibeli dengan harga rata-rata Rp 200 ribu untuk sekarung pelet dengan isi 30 kg. “Sekarung itu, kadang hanya cukup seminggu. Kalau ternak ikannya banyak malah hanya satu hari saja.” katanya.

Menurut pengakuan warga, hingga saat ini belum ada perhatian serius dari pihak pemerintah terkait pengembangan budidaya ikan patin yang menjadi salah satu usaha pokok masyarakat Petaling. Seperti tidak beroperasinya pabrik pelet yang sudah ada didesa ini serta kurangnya berbagai kegiatan penelitian dan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat dibidang budidaya ikan. (*)

Advertisement