Kenaikan Gas Elpiji Berpeluang Tambah Angka Kemiskinan di Sumsel

10.149 dilihat
Salah satu pedangan gorengan yang menggunakan gas elpiji 12 kg sebagai bahan bakarnya
Salah satu pedangan gorengan yang menggunakan gas elpiji 12 kg sebagai bahan bakarnya

PALEMBANG, buanaindonesia.com- Melambungnya harga gas elpiji 12 kilogram di Sumatera Selatan (Sumsel) dinilai sejumlah kalangan akan menimbulkan dampak buruk terhadap masyarakat. Pasalnya, selain akan memicu kenaikan harga makanan jadi, kenaikan harga gas elpiji 12 kg juga berpotensi menambah jumla angka kemiskinan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Bachdi Ruswana saat dimintai komentarnya kamis (2/1/2014) kemarin mengatakan, Kebijakan kenaikan harga gas elpiji 12 kg akan berpotensi memperbesar jumlah kelompok masyarakat miskin.

Advertisement

“Kenaikan harga gas elpiji 3 kg ini akan menimbulkan dampak langsung meningkatnya harga makanan jadi. Sebab menurutnya, selama ini para pengusaha kecil, khususnya pengusaha makanan adalah pemakai gas elpiji 12. Kenaikan gas ini akan membuat biaya produksi menjadi meningkat, dan mau tidak mau mereka pasti akan menaikan harga makanan hasil produksi mereka. Belum lagi, resiko akan gulung tikarnya sejumlah usaha kecil yang tak mampu bersaing,” katanya.

Dalam hal ini, lanjutnya, Pemerintah perlu kebijakan dan strategi penyangga agar jumlah penduduk miskin tidak semakin banyak karena kebijakan makro ekonomi. “Sehingga kalau terjadi shock tidak berdampak langsung,” ucapnya.

Sementara itu ditempat terpisah, sejumlah warga dan pengusaha kecil mengeluhkan kenaikan harga gas elpiji 12 Kg yang mencapai 60 persen. Umumnya mereka menyesalkan tindakan pertamina yang dinilai telah menaikan harga gas elpiji secara sepihak dan tanpa sosialisasi sebelum menaikan harga.

“Kenaikan harga gas 12 kg ini jelas tidak masuk akal, mencapai enam puluh persen, tentu ini sangat memberatkan,” ujar Darmini (31), Ibu Rumah tangga, Warga Talang Kelapa ini. (Ward)

Advertisement