BUANAINDONESIA.SUMSEL- Mitra binaan SKK Migas di Desa Gajah Mati, Kecamatan Babat Supat, Kabupaten Musi Banyuasin, adalah kelompok usaha yang bergerak di bidang jamu dan tanaman obat keluarga (toga). Lebih di kenal dengan nama Pondok Herbal Kelompok Toga Kenanga Program TOGA salah satu program pemberdayaan perempuan yang dilaksanakan sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat PT Medco E&P Indonesia di Sumatera Selatan.

Program pertanian ramah lingkungan yang ditujukan kepada ibu rumah tangga untuk diaplikasikan di lahan pekarangan.Diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan, peningkatan kualitas kesehatan keluarga, dan sekaligus penghijauan lingkungan. Berdasarkan data yang didapat Buana Indonesia, Program telah diimplementasikan Musi Banyuasin, 7 desa dan anggota 306 orang, Banyuasin 4 desa, aggota 277 orang, Muara Enim, 4 desa, anggota 77 orang,
Selanjutnya, Lahat, 2 desa, anggota 91 orang, dan Musi Rawas, 4 desa, anggotanya 142 orang.Ketua Pondok Herbal, Yeni Lusmita, mengatakan awalnya berdiri pondok Herbal ini berkat binaan PT Medco E & P Indonesia.
“Pondok herbal di rintis 2011, Tahun 2012 mulai berjalan sampai dengan sekarang dan dikenal masyarakat berkat binaan Medco,”ujarnya.
Dikatakan, awalnya PT Medco membantu bibit tanaman herbal, kemudian alat untuk mengemas obat agar bisa diterima masyarakat.
“Berkat keuletan dan kerja keras, Pondok Herbal kalau mengikuti kegiatan pameran selalu menang terus,”ujarnya
Kedepan kami prediksi, peluang obat herbal sangat menjanjikan, mengingat masyarakat saat ini mulai kembali beralih menggunakan produk yang alami.
“Saya pikir orang akan beralih ke obat herbal, yang kita produksi. Berkat binaan PT Medco, kelompok kami memliliki penghasilan yang cukup, kisaran 5- 10 juta perbulan lumayan dibanding sebelumnya hanya memantang karet di kebun,”ujarnya
Herry Suriyadi Purnama, Supervisor Community Relation & Enhancement mengatakan Sekarang Kelompok Toga Kenanga, sudah dikatakan mandiri dalam mengembangkan produk olahan jamu herbal. Program ini merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) SKK Migas Wilayah Sumbagsel bersama PT Medco E&P Indo – Rimau Aset untuk memberdayakan masyarakat sekitar dengan memanfaatkan potensi tanaman obat.
“Pendampingan SKK Migas membawa perubahan positif, perekonomian dan kesehatan warga Desa Gajah Mati,” Kata Herry. Selasa 11 November 2025.
Dijelaskan, awalnya adanya kesulitan akses fasilitas kesehatan seperti Puskesmas masih dirasa kurang optimal, karena tenaga medis yang terbatas. Dengan program penyadaran obat keluarga, setidaknya hal itu bisa membantu pengobatan penyakit ringan dalam lingkungan terkecil yaitu keluarga masing-masing. Hal ini merupakan salah satu cara utk meningkatkan fasilitas kesehatan masyarakat.

“Ibu Yeni ternyata telah berhasil menyemangati dirinya sendiri dan kelompoknya untuk menekuni kegiatan TOGA hingga kini akhirnya menjadikan kegiatan ini sebagai penghasilan utama dalam membantu ekomoni keluarganya,”kata Herry.
Masih kata Herry, jika kita berkunjung ke rumah Ibu Yeni, kita akan menemukan berbagai racikan herbal. Tidak hanya dalam bentuk simplisia (bahan obat yang dikeringkan), tapi juga serbuk herbal dan minuman kesehatan seperti seduhan jahe dan kunyit asam.
Program TOGA dan produk herbal ini juga merupakan salah satu program inovasi dan andalan dari Medco E&P di Blok Rimau hingga berhasil meraih penghargaan PROPER Emas.dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI. Selanjutnya, Medco E&P dalam melaksanakan kegiatan ini, berkoordinasi dan dimonitor oleh Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (Wardoyo)








