Cargill Alokasikan Dana Rp49miliar untuk Proyek Konservasi Hutan

18.513 dilihat
Berfoto bersama dengan 8 KUD petani plasma PIR-TRANS PT. Poliplant Sejahtera penerima premium RSPO

BUANAINDONESIA,SUMSEL- Cargill telah mengalami banyak kemajuan dalam jangka waktu lima tahun sejak kami memperkenalkan Kebijakan Minyak Sawit Berkelanjutan pada tahun 2014. Dalam rantai pasokan kami dan secara lebih luas di seluruh industri.

“Kami telah mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggundulan hutan dan pembukaan lahan gambut dan menangani masalah hak asasi manusia terkait untuk produksi minyak sawit,”Kata John Hartmann, Global Sustainability Lead, Agricultural Supply Chain and Edible Oils at Cargill. Seperti yang dikirim ke redaksi buanaindonesia. Kamis 4 Juni 2020

Advertisement

Dilanjutkan, laporan keberlanjutan minyak kelapa sawit 2019 mencerminkan upaya Cargill secara global, berikut ini adalah inisiatif dan program khusus di Indonesia yang telah berkontribusi pada pencapaian kolektif untuk tahun 2019, antara lain:

“Sertifikasi RSPO untuk 16.889 petani plasma dari hampir 22.000 petani plasma di Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat, Kebijakan Nol Pembakaran (Zero-burning) untuk mendukung masyarakat lokal dan Komitmen terhadap keberlanjutan dengan mengalokasikan dana sebesar Rp.49miliar untuk proyek konservasi hutan di Nanga Lauk, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat selama 25 tahun ke depan,”katanya.

Dikatakan, Cargill sangat menghargai pentingnya praktik berkelanjutan dalam operasinya dan melihat nilai signifikan dalam menciptakan solusi untuk mendorong sektor pertanian dan industri secara umum menjadi lebih berkelanjutan.

Dijelaskan, Pada tahun 2014, Cargill berjanji untuk tidak mengurangi nilai konservasi tinggi tinggi atau hutan dan lahan yang kaya karbon, menghindari pembukaan lahan gambut, dan menegakkan hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal di kawasan di mana Cargill beroperasi.

Sedangkan Pada Desember 2019, Cargill telah menegaskan kembali komitmennya terhadap kelestarian dengan menjanjikan Rp49 miliar (US $ 3,5 juta) untuk proyek konservasi hutan di Nanga Lauk, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat selama 25 tahun ke depan. Ditargetkan untuk mendukung populasi sekitar 700 penduduk di 197 rumah tangga, proyek ini memungkinkan anggota masyarakat untuk melindungi dan mengelola hutan sambil memperoleh penghasilan dari penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Cargill mulai melakukan bisnis di Indonesia pada tahun 1974 dengan mendirikan pabrik pakan di Bogor, Jawa Barat. Saat ini, Cargill berkantor pusat di Jakarta dan memiliki lebih dari 19.000 karyawan.

“Kami memiliki 60 lokasi dengan kantor, pabrik, dan fasilitas di seluruh negeri dan kegiatan bisnis terdiri dari nutrisi hewan, kakao, kopra, rumput laut, ekspor makanan olahan, biji-bijian dan minyak sayur, minyak kelapa sawit, serta pati dan pemanis,” (Rel)

Advertisement