DTK Persada 212 Garut Rangkul Tokoh Lintas Iman, Toleransi Jadi Kunci Jaga Persatuan

306 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID, GARUT  – Menjaga keharmonisan di tengah keberagaman menjadi pesan utama dalam Dialog Multikultural bertajuk Menegakkan Kemanusiaan dan Keluhuran Moral Lintas Iman yang diselenggarakan Dewan Tahfidzi Kabupaten (DTK) Persaudaraan Alumni 212 (Persada 212) Garut di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut.

Advertisement

Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (13/10/2026) tersebut melibatkan tokoh lintas agama, tokoh adat, pemuka masyarakat, serta unsur Pemerintah Kabupaten Garut. Forum ini menjadi wadah memperkuat persaudaraan sekaligus mengantisipasi potensi perpecahan akibat perbedaan agama, pandangan, maupun kepentingan politik.

Staf Ahli Bupati Garut Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM), dr. Maskut Farid, mengatakan bahwa kerukunan masyarakat merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pembangunan daerah.

Menurutnya, pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada infrastruktur dan kemajuan fisik. Pemerintah juga perlu memastikan masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman, nyaman, serta saling menghormati meskipun memiliki latar belakang yang berbeda.

Maskut menilai dialog lintas iman menjadi salah satu langkah positif untuk memperkuat komunikasi dan membangun kesepahaman antarelemen masyarakat.

Ia berharap pendekatan dialogis dapat terus dikedepankan dalam menyikapi perbedaan, dibandingkan cara-cara yang berpotensi memicu konflik atau memperlebar jarak di tengah masyarakat.

Dengan terjaganya toleransi dan keharmonisan, pembangunan di Kabupaten Garut diharapkan dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat bagi seluruh warga.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Garut, Hamzah Rukmana, menegaskan bahwa keberagaman agama dan kepercayaan merupakan bagian dari kekayaan sosial yang perlu dipelihara secara bersama-sama.

Ia menyebut Garut memiliki masyarakat dengan latar belakang keyakinan yang beragam, mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Buddha, Konghucu, hingga penganut kepercayaan Sunda Wiwitan.

Kondisi tersebut membutuhkan komitmen berkelanjutan dari pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat agar hubungan antarumat tetap terjaga dengan baik.

Hamzah juga mengingatkan bahwa upaya merawat kerukunan tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarumat beragama, tetapi juga mencakup pelestarian seni, tradisi, dan kebudayaan lokal.

Menurutnya, kebersamaan dalam menjaga warisan budaya dapat menjadi salah satu sarana mempererat hubungan sosial sekaligus memperkuat identitas masyarakat Garut yang beragam.

Di sisi lain, Ketua Umum DTK Persada 212 Garut, Aam Moh. Jalaludin, mengajak para kiai, ulama, pastor, pendeta, biksu, rohaniwan, serta tokoh adat untuk memperkuat komitmen dalam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan moralitas.

Ia menekankan bahwa tokoh lintas agama memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kesejukan di tengah masyarakat, bukan menjadi bagian dari kepentingan politik praktis yang berpotensi menimbulkan perpecahan.

Aam juga mengingatkan pentingnya mewaspadai kampanye hitam, fitnah, serta pembunuhan karakter yang menggunakan identitas agama sebagai alat untuk menyerang pihak lain.

Menurutnya, perbedaan pilihan dan pandangan politik semestinya tidak merusak persaudaraan maupun mengganggu kehidupan masyarakat yang selama ini berjalan harmonis.

Melalui dialog multikultural tersebut, DTK Persada 212 Garut berharap seluruh elemen masyarakat semakin memahami pentingnya toleransi, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab bersama dalam menjaga kedamaian daerah.

Komitmen lintas iman ini diharapkan menjadi fondasi untuk mempertahankan Garut sebagai daerah yang kondusif, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, serta memberikan ruang bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk hidup berdampingan secara damai.