BUANAINDONESIA.CO.ID.PANDEGLANG – Dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan dan sinergitas lintas sektor dalam menghadapi potensi dampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, Pemerintah Kabupaten Pandeglang bersama TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Balawista, tenaga kesehatan dan sejumlah instansi terkait melaksanakan Apel Siaga Gabungan Dalam Rangka Perbantuan Bencana Erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin 7 September 2026.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Komandan Apel memasuki lapangan, dilanjutkan masuknya Bupati Pandeglang selaku pimpinan apel, penghormatan pasukan, laporan Komandan Apel sekaligus pemeriksaan pasukan, penyampaian amanat dan doa, laporan akhir, penghormatan pasukan, hingga pimpinan apel meninggalkan lapangan dan kegiatan dinyatakan selesai.
Dalam amanatnya, Bupati Pandeglang Hj. Rd. Dewi Setiani menyampaikan bahwa apel siaga tersebut merupakan bentuk kesiapan bersama dalam mengantisipasi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau sekaligus memastikan seluruh unsur yang terlibat memiliki kesiapan personel, sarana, komunikasi dan koordinasi apabila sewaktu-waktu diperlukan dalam penanganan kondisi darurat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Pandeglang dan seluruh masyarakat, saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kodam III/Siliwangi, Korem 064/Maulana Yusuf, Kodim 0601/Pandeglang, Polres Pandeglang, serta seluruh unsur TNI, Polri, pemerintah daerah dan instansi terkait yang telah memberikan perhatian, dukungan dan kesiapsiagaan nyata dalam menghadapi perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau,” ujar Bupati.
Bupati juga menegaskan bahwa kehadiran Satgas PRCPB Kodam III/Siliwangi di Kabupaten Pandeglang tidak hanya memberikan tambahan kekuatan personel dan sarana pendukung, tetapi juga memberikan rasa aman kepada masyarakat. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesiapan pemerintah bersama TNI, Polri dan seluruh unsur terkait untuk mengambil langkah yang diperlukan apabila terjadi perkembangan situasi kedaruratan.
Ia mengingatkan agar perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau disikapi secara serius, terukur dan tetap tenang dengan berpedoman pada informasi resmi dari instansi yang berwenang.
Berdasarkan informasi resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral melalui Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pada Minggu, 6 September 2026 pukul 07.10 WIB telah terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau. Erupsi tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan durasi kurang lebih 16 detik, sementara tinggi kolom abu tidak teramati.
” Disampaikan bahwa Gunung Anak Krakatau berada pada Status Level III atau Siaga. Sesuai rekomendasi PVMBG, masyarakat, pengunjung, wisatawan maupun pendaki diminta untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif,” jelasnya
Bupati menekankan pentingnya menjaga dua hal secara bersamaan, yaitu kewaspadaan yang tinggi dan ketenangan masyarakat. Hal tersebut dinilai penting mengingat Kabupaten Pandeglang memiliki kawasan pesisir yang luas dan berhadapan langsung dengan wilayah Selat Sunda.
” Di sepanjang kawasan pesisir tersebut terdapat permukiman masyarakat, aktivitas nelayan, perikanan, transportasi laut, kawasan wisata, pelaku usaha serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh karena itu, setiap perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau harus menjadi perhatian bersama,” tandasnya
Pengalaman berbagai peristiwa bencana di kawasan Selat Sunda juga menjadi pelajaran penting bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini dan tidak baru dilakukan setelah bencana terjadi.
Bupati juga menyampaikan bahwa berdasarkan laporan Balawista, suara dentuman yang sebelumnya sempat terdengar sudah tidak terdengar kembali. Namun demikian, kondisi tersebut tidak dapat diartikan bahwa situasi telah sepenuhnya aman, mengingat status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.
” Selain potensi aktivitas erupsi, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kemungkinan dampak sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah. Abu vulkanik berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, jarak pandang, aktivitas transportasi, mobilitas masyarakat hingga kegiatan pariwisata.
Untuk itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik diimbau menggunakan masker ketika melakukan aktivitas di luar ruangan serta terus mengikuti perkembangan informasi resmi yang disampaikan pemerintah dan instansi berwenang,”
Dalam aspek keselamatan masyarakat dan kesiapsiagaan pariwisata, Balawista Kabupaten Pandeglang juga telah menyiagakan lebih dari 100 personel di wilayah pesisir. Kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk memastikan keamanan masyarakat maupun wisatawan di kawasan pesisir Pandeglang. Bupati menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dibangun sejak kondisi masih aman, diperkuat ketika terjadi peningkatan aktivitas, serta dipelihara secara berkelanjutan melalui koordinasi, edukasi masyarakat, latihan atau simulasi, kesiapan personel dan sistem komunikasi yang efektif.
” Melalui apel ini, seluruh unsur diminta memastikan secara nyata kesiapan personel, sarana dan peralatan, jalur koordinasi antarinstansi, sistem komunikasi, jalur serta akses evakuasi, pembagian tugas masing-masing unsur hingga pemahaman masyarakat mengenai langkah yang harus dilakukan apabila kondisi darurat terjadi. Berdasarkan hasil monitoring dan komunikasi Pemerintah Kabupaten Pandeglang sampai dengan 6 September 2026, aktivitas pariwisata di kawasan pesisir Pandeglang, khususnya wilayah Carita dan sekitarnya, masih berjalan relatif normal dan belum terlihat adanya penurunan signifikan maupun pembatalan kunjungan wisatawan,”
Untuk mendukung kesiapsiagaan tersebut, sejumlah sarana dan kendaraan juga disiagakan, terdiri dari 4 unit ambulans, 2 unit mobil pemadam kebakaran, 1 unit water cannon, 2 unit LCR, 6 unit truk angkut personel, serta 1 unit mobil Kemensos.
Sementara itu, keterlibatan Kodim 0601/Pandeglang dalam apel siaga gabungan merupakan bagian dari komitmen TNI AD untuk selalu siap membantu pemerintah daerah dalam penanggulangan bencana serta memberikan perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat,” pungkasnya.
Dandim 0601/Pandeglang Letkol Inf Fajar Aulia Futra, S.I.P. bersama jajaran menegaskan pentingnya kesiapan personel dan satuan dalam menghadapi setiap kemungkinan perkembangan situasi. Sinergitas antara TNI, Polri, pemerintah daerah dan seluruh instansi kebencanaan menjadi faktor penting dalam memastikan respons yang cepat, tepat dan terkoordinasi.
” Selain kesiapan personel, monitoring terhadap perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan dengan mengacu pada informasi resmi PVMBG dan Badan Geologi. Pemantauan mencakup perkembangan aktivitas vulkanik, status kegempaan, kejadian erupsi, potensi sebaran abu vulkanik serta setiap rekomendasi dan peringatan resmi dari instansi berwenang. Pemantauan juga diarahkan terhadap aktivitas masyarakat di kawasan pesisir, termasuk aktivitas nelayan dan transportasi laut di wilayah Selat Sunda. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat yang melakukan aktivitas di wilayah perairan apabila sewaktu-waktu terjadi perubahan kondisi,” Ungkap Fajar.
Dengan dilaksanakannya apel siaga gabungan ini, diharapkan seluruh unsur terkait memiliki kesiapan yang sama, baik dari aspek personel, peralatan, komunikasi maupun koordinasi. Pemerintah Kabupaten Pandeglang bersama TNI, Polri dan seluruh stakeholder terkait akan terus meningkatkan kesiapsiagaan serta memberikan informasi kepada masyarakat secara terukur dan berdasarkan sumber resmi.
” Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata sinergitas dan soliditas antara TNI, Polri, pemerintah daerah dan seluruh unsur kebencanaan dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat, khususnya masyarakat yang berada di wilayah pesisir Kabupaten Pandeglang.
Kodim 0601/Pandeglang akan terus mendukung upaya pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana, dengan mengedepankan kesiapsiagaan, koordinasi dan langkah cepat di lapangan demi menjaga keamanan dan keselamatan masyarakat Kabupaten Pandeglang,” pungkasnya .








