Psikologi Ikhlas

169.671 dibaca

Kata “ikhlas” berasal dari bahasa Arab إخلاص yang berarti rela, tulus dan jujur. Sifat ikhlas dalam bahasa Inggris disebut “sincere”. Di dalamnya terdapat sifat “honest” yg berarti tulus, jujur, terus terang (frank). Dalam Qamus al-Tarbiyah English-Arabic, “honest” bermakna “amanah” (dapat dipercaya) dan “istiqamah” (ajeg) misalnya dalam mengikuti aturan, berikhtiar, dan berjanji.

Dalam kajian psikologi, ikhlas merupakan sikap batin yang hanya diketahui Allah dan pemilik keikhlasan itu sendiri. Kita hanya dapat mengira-ira seseorang bersikap ikhlas atau riya dalam beramal dari ucapan dan isyarat jasmaniah misalnya ekspresi wajah orang tersebut. Namun, perkiraan kita tentu saja dapat meleset. Mengapa? Manusia pandai berpura-pura dan bersandiwara!

Advertisement

Di TV dan dalam acara terbuka sesekali kita menyaksikan orang kaya terpelajar yang pintar mengekspresikan wajah tulus saat menyerahkan sumbangan di tengah-tengah keramaian. Lalu, ia berkata: “Saya ikhlas!”. Pada hal, mungkin ia sedang menyelenggarakan “pameran” untuk meraih pujian atau imbalan. Meskipun demikian, itu bukan urusan kita melainkan urusan Allah yang Mahatahu hakikat dan derajat keikhlasan manusia. Kita sendiri, tidak perlu repot! Daripada repot lebih baik kita ber-husnu zan saja kecuali ada fakta yang secara terang benderang menunjukkan ketidakikhlasan orang itu.
Berbuat ikhlas atau mengikhlaskan perbuatan, secara psikologis berarti melakukan perbuatan dengan benar dalam arti sesuai dengan prosedur yang lazim, logis, dan sesuai dengan tujuannya. Inilah contohnya! Kalau menulis Latin, kita gerakkan tangan dari kiri ke kanan, sedang kalau menulis Arab dari kanan ke kiri. Jika prosedur yang lazim ini tidak diikuti, maka pelakunya dapat kita sebut tidak ikhlas, bahkan jika ‘misbehavior’ (kelainan perilaku) itu sering berulang maka pelakunya dapat diasumsikan mengidap masalah psikis serius misalnya depresi, bahkan mungkin mengalami ‘thought disorder’. Kekacauan pikiran! Orang yang mengidap thought disorder boleh jadi karena salah satu subsistem memori dalam otaknya (yang memuat file kompetensi menulis, misalnya) tidak mampu memberikan perintah akurat kepada anggota badan (dalam hal ini tangan) yang sedang melakukan sebuah perbuatan yakni menulis, sehingga ia menulis Latin dari kanan ke kiri. Fenomena kekacauan pikiran ini dapat pula berakibat hilangnya pelbagai kemampuan psikis lainnya seperti kemampuan ‘atribution’. Atribusi adalah kemampuan mengasosiasikan sebuah karakter benda dengan benda tertentu yang cocok. Contoh: mengatribusikan materi berwana putih dan berasa asin sebagai garam (bukan gula) dan mengatribusikan materi hasil pembakaran yang berwarna merah dan panas sebagai bara api, bukan gula-gula atau permen yang manis.

Berdasarkan uraian singkat di atas, jika ada seruan yang berbunyi: “Marilah kita ikhlas dalam beramal!”, maka konotasinya adalah:
1) “Beramallah dengan cara yang benar!”;
2) “Janganlah mengharapkan imbalan dari siapa pun kecuali ridha Allah semata!”.
Dengan berbuat ikhlas dan mengharapkan ridha Allah (mardhatillah) jiwa kita akan tenang dan terhindar dari provokasi untuk melakukan hal-hal yang negatif. Alasannya? Ada keseimbangan antara emosi (perasaan) dan kognisi (akal) yang mendorong kita untuk introspeksi dan menjauhi provokasi (apa lagi menyebarkannya!) serta tidak mengucapkan apa pun kecuali kebaikan dengan cara yang baik. Baik bagi kita, juga baik bagi orang lain. Marilah kita ikuti perintah Rasulullah di bawah ini dengan ikhlas!
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا او ليصمت .
“Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ucapkanlah kebaikan atau (jika tidak), diamlah!”

Keseimbangan psikologis seperti di atas adalah cerminan jiwa yang sehat, dan dengan jiwa yg sehat kita dapat mengharapkan mardhatillah. Selanjutnya, dengan mardhatillah kita akan memeroleh karunia Allah, kapan pun, sesuai dengan kehendak-Nya.
والله أعلم بالصواب

Penulis :

Prof. Dr.H. Muhibbin Syah, M.Ed

Penulis merupakan guru besar Psikologi Pendidikan Universitas Islam Negeri ( UIN ) Sunan Gunung Djati Bandung