Satu Kampung Rumah Warga Baduy Luar Terbakar, Kapolda Banten Langsung Respon Cepat

7.140 dibaca

BUANAINDONESIA.CO.ID,LEBAK – Kapolda Banten, Irjen Pol. Dr. Rudy Heriyanto Adi Nugroho segera mengirimkan bantuan logistik pokok untuk warga Baduy Luar, Kabupaten Lebak, Banten, yang dilanda kebakaran, Rabu siang 13 Oktober 21.

“Kami sudah di Ciboleger. Sesuai arahan Kapolda, kami juga akan menginventarisasi agar dapat diketahui apa-apa yang dapat kita bantukan untuk kemungkinan mendirikan kembali rumah-rumah mereka,” kata Kapolres Lebak, AKBP Tedy Rayendra via telapon, semalam

Advertisement

Bantuan bersifat segera itu antara lain 10 ton beras, air mineral, dan mi cepat saji. “Betul, saya sudah minta Kapolres Lebak untuk lebih dulu ke lokasi musibah kebakaran itu,” kata Kapolda Irjen Rudy.

Dua tahun lalu, kebakaran juga melanda rumah-rumah warga Baduy di lokasi yang berbeda. Kebakaran kali ini terjadi hari Rabu sekitar pukul 13.00 di lokasi yang berjarak sekitar 6 km dari induk desa. Tepatnya, di Rt.3/ Rw. 12, Kampung Cepak, Desa  Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak.

Rumah-rumah mereka dibangun dengan posisi tertata baik dan seragam mengikuti  pikukuh (aturan adat) selaras dengan alam. Rumah-rumah mereka sangat spesifik berdidingkan (bambu), berkerangka kayu, dengan atap lumpia. Semua merupakan bahan yang mudah terbakar.

Dalam peristiwa kebakaran  kemarin (13/10/21) tak ada korban jiwa, tapi 16 dari 24 KK Baduy kehilangan tempat tinggal. Selain itu, sebuah lumbung padi (leuit) juga habis dilalap api. Setiap rumah diperkirakan bernilai Rp 50 juta, sedangkan sebuah leuit seisinya bernilai sekitar Rp 20 juta.

Awal kebakaran diketahui oleh salah seorang warga Baduy, Cemok. Titik api pertama di rumah Heri alias Ado (39). Lalu, api dengan cepat merambat ke rumah-rumah warga  yang lain.

Kebakaran tak bisa segera dipadamkan, karena selain bangunan yang memang mudah terbakar, juga sebagian besar warga sedang berada di ladang.

Warga Baduy tidak menggunakan listrik untuk penerangan dan tidak pula menggunakan kompor minyak untuk memasak. Mereka memasak menggunakan tungku tanah.

“Mungkin ada yang lalai, api tungku ditinggalkan masih belum padam tuntas sehingga  menyambar ke dinding rumah yang memang mudah terbakar,” kata Uday Hudaya, pemerhati budaya yang sejak 1994 biasa menjurubicarai warga Baduy.