BANYUASIN, Buanaindonesia.com– Meski harga Bahan Bakar Minyak (BBM) telah resmi diturunkan, namun tidak BBM yang dijual secara eceran di wilayah perairan. Ya, di wilayah ini BBM jenis premium atau lebih disebut bensin dijual Rp 11.000/liter atau lebih mahal Rp 2.000/liter dibandingkan yang dijual di pengecer di wilayah daratan Banyuasin.
Mahalnya harga bensin ini dirasakan oleh Dani warga Desa Karang Agung Kecamatan Banyuasin II. Menurut dia, harga bensin di desanya ada dua jenis harga, di tingkat agen Rp 9.500/liter sementara di tingkat pengecer Rp 11.000/liter. Tentu saja hal ini berbanding terbalik dari kebijakan pemerintah yang telah menurunkan harga bensin pekan yang lalu.
“Tiap hari pasti saya beli bensin buat menghidupkan speedboat. Kalau di agen habis, terpaksa membeli secara eceran di pengecer dengan resiko harganya yang lebih mahal. Sungguh ironis, tapi inilah kenyataannya yang terjadi. Harga dari SPBU dengan eceran sangat terpaut jauh, sudah sangat mencekik, namun karena kebutuhan kami terpaksa harus tetap membelinya,” ungkap Dani yang merupakan serang speedboat ini.
Senada dikatakan Maman, aktivitasnya mengharuskan untuk menggunakan sepeda motor dan harus membeli bensin setiap tangki bahan bakarnya mulai kosong. Sayangnya, harganya hingga saat ini belum turun, meski pemerintah telah menurunkan harga.
“Kami kira bensin eceran bisa turun juga, tapi sampai sekarang idak turun-turun. Kemungkinan besar tidak akan turun karena pengecer mengaku tidak akan menurunkan harga. Terlebih saat ini, harga modal yang digunakan pun tidak turun. Mereka ngakunya ngambil minyak dari agen, jadi sudah cukup mahal,” ujarnya.
Sementara itu, menyikapi mahalnya harga BBM di perairan ini, Sukamto, warga Karang Agung berharap agar ditempatnya didirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Minyak (SPBU) sehingga haga BBM dapat seragam dan tidak mencekik leher masyarakat.
“Tidak mudah kita membeli minyak, harganya dimana-mana sama, mahal. Mau tidak mau walau mahal dan cukup tinggi dibandingkan di darat sana, kita tidak punya pilihan lain,” katanya.
Dari sejak lama masyarakat perairan mengharapkan adanya SPBU agar dapat mempermudah masyarakat untuk mendapatkan BBM sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Sayangnya, hingga saat ini belum terealisasi. Hanya saja, ada SPBU terapung yang melayani nelayan dan yang lainnya dan itupun dengan jumlah terbatas.
“Kadang kami yang juga keseharian narik speedboat harus beli minyak juga mahal. Walau sudah beli di Palembang. Paling tidak, kalau ada SBPU semacam yang ada di Palembang kita tidak was-was lagi membeli minyak oplosan. Karena dalam beberapa tahun terakhir ini kami rasakan bensin yang kami beli sedikit aneh, baunya angit seperti belum masak,” ucapnya.
Sementara itu, Lisna salah satu pengecer mengaku jika harga BBM memang tidak mengalami penurunan, mengingat yang dia jual merupakan minyak stok lama. Itupun dirinya membeli di Palembang dengan harga tinggi, dan belum lagi ongkos angkut untuk mengakut BBM dengan menggunakan jukung.
“Memang mahal dek, yang harus say pikirkan itu modal buat beli minyak, terus biaya untuk menyewa jukung untuk mengangkut minyak. Memang seharusnya di perairan ini ada SBPU jadi kalau kita jual eceran tidak begitu mahal dan tidak terlalu tinggi dibandingkan minyak di daratan,” ucapnya.
Editor : Karnadi







