BRG Indonesia Manfaatkan Alat Water Logger, Cegah Karhutla 2017

15.688 dibaca

BUANASUMSEL.COM, PALEMBANG – Untuk menciptakan tenaga-tenaga terampil yang memiliki pengetahuan dan keahlian dalam memanfaatkan alat water logger telemetri, Badan Restorasi Gambut (BRG) Republik Indonesia bekerjasama dengan Japan Internasional Cooperation Agency (JICA) menyelenggarakan kegiatan Training of Trainers (TOT)  di hotel 101 Palembang, Kamis (09/2/2017).

Water logger telemetri sendiri merupakan alat yang dimanfaatkan untuk memantau secara langsung  parmeter tinggi permukaan air lahan gambut dan melakukan perluasan restorasi gambut yang bertujuan untuk mencegah agar tidak terjadi karhutla di tahun 2017.

Advertisement

Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Dr.Haris Gunawan mengatakan, kegiatan Training of Trainers itu untuk mempersiapkan trainer yang handal dalam mengelola lahan gambut dan bisa memanfaatkan teknologi yang telah disiapkan.

“Kita harapkan setelah kegiatan Training of Trainers ini bisa menjadi instrukstur disetiap kegiatan pengelolaan lahab gambut,” katanya.

Dijelaskan Haris, alat water logger telemetri sudah ditebar sebanyak 20 buah untuk provinsi Sumsel, Riau dan Kalimantan Tengah. Namun, Haris mengatakan, Sumsel menjadi provinsi pertama yang melaukan kegiatan Training of Trainers.

“Pengembangan alat ini sudah kita pasang 20 alat pada 2016 dan bisa kita pantau menggunakan  sd card secara langsung,  kedepannya untuk Sumsel akan ditambah 4 alat lagi.” jelas Haris.

Sementara, Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim provinsi Sumsel, Najib Asmani mengatakan, bahwa alat water logger ini dapat memantau secara tepat tinggi permukaan air di lahab gambut dengan menggunakan indikator suhu udara.

Lebih lanjut, Najib mengatakan alat tersebut akan difokuskan untuk dipasang pada dua kabupaten yang ada di Sumsel yakni kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

“Karena memang dua daerah ini memiliki lahan gambut yang lebih luad dibanding kabupaten lain,” ungkapnya.

Ditambahkan Najib, pada 2015 lalu Sumsel juara Karhutla dan kabut asapnya, namun pada tahun 2016 Sumsel kembali menyabet juara yang berbeda yakni menurunkan persantes Karhutla menjadi 99,87 persen dari tahun sebelumnya.

“2017 ini kami berharap menjadi 100 persen tidak terjadi Karhutla lagi, dan semoga dengan adanya alat water logger ini bisa membantu dalam mewujudkan keinginan kita,” harapnya

Bagaimana Menurut Anda?