
PALEMBANG, Buanaindonesia.com- Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar seminar sehari tentang Peran Media Dalam Pencegahan Terorisme di Sumatera Selatan (Sumsel) di Best Skip Hotel Palembang, selasa 11 Agustus 2015. Acara digelar bersama kalangan media baik cetak, televisi dan online tersebut dihadiri oleh Direktur Pencegahan BNPT, Brigjend Pol Drs Hamidin, Anggota Dewan Pers, Imam Wahyudi, Deputi 1 BNPT, Mayjend TNI Agus Surya Bakti.
Dalam kesempatan tersebut, Mayjend TNI Agus Surya Bakti memaparkan, Terorisme di Indonesia bukan hal yang baru, kolompok radikal ini telah ada sejak zaman pemerintahan Orde lama yang dikenal DI TII.
“Dijaman orde baru kelompok ini dikenal dengan suspersib, untuk itu Bangsa Indonesia dikala orde Baru menerapkan undang-undang Suspersib” kata Agus dalam sambutanya.
Dikatakan Agus seiring perkembangan jaman, diera transparansi informasi. Dimana informasi cepat berkembang perang antara irak dan iran dikala itu bisa cepat diketahui oleh masyarakat Indonesia, sehingga hal ini dijadikan alat untuk propaganda oleh kalangan radikal dengan dalih jihad. Sehingga munculah Bom bali.
Menurut Agus kelompok-kelompok radikal ini akan terus berkembang yang pada akhirnya akan menghancurkan negara kesatuan Republik Indonesia dengan cara-cara teror, dengan dalih agama.
Dengan berdalih agama inilah Segingga tempat-temapa yang sakral seperti masjid dan pondok pesantren bisa saja dijadikan tempat untuk penyebaran paham radikal tersebut.
Sementara rumah-rumah kos dan kontrakan dijadikan tempat persembunyian.
“Untuk itu, peran media ini sangat penting dalam menangkal dan mencegah penyebaran paham radikal ini, oleh karna itu kami menghimbau serta mengharapkan semua stek holder untuk ikut menanggulanginya” lanjut agus.
Direktur Pencegahan BNPT, Brigjend Pol Drs Hamidin mengungkapkan tantangan media massa dalam pencegahan terorisme sangatlah penting. Sebab melalui media masyarakat bisa mengetahui mengenai terorisme dan akibat dari terorisme itu.Sementara itu, anggota Dewan Pers, Imam Wahyudi, dalam kesempatan yang sama menuturkan, perinsip terorisme dan jurnalistik itu sangat bertolak belakang sehingga wajar untuk diberitakan sejelas-jelasnya.
“output dari teroris adalah untuk menghancurkan, sedangkan output jurnalistik adalah untuk kesejahteraan umat manusia, sehingga wajar kalau media juga diharapkan ikut dalam mencegah timbulnya terorisme” imbuh Imam
Sementara itu, Ketua Bidang Humas dan Media Massa FKPT Sumsel, H Helmi Marsindang didampingi H Periansyah, Sekretaris FKPT Sumsel, mengatakan seminar yang digelar merupakan pelaksanaan hasil rakernas dan program kerja FKPT seluruh Indonesia yang dilaksanakan pada bulan Februari 2015.
“Di setiap provinsi sudah dibuat jadwal dengan acara yang berbeda- beda, nanti kita juga mengundang tokoh agama, tokoh pendidikan” tukasnya (DK)








