BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Petani Desa Gelebak Dalam Kecamatan Rambutan saat ini telah memasuki masa panen padi di lahan lebak IP 200. Sayangnya, anjloknya harga padi membuat petani harus selalu gigit jari dan kondisi ini selalu terjadi saat tibanya panen raya.
Saat ini harga padi kering panen di tingkatan petani hanya Rp 3.200/Kg, padahal Harga Penetapan Pemerintah (HPP) sebesar Rp 4.500/Kg. Sedangkan harga beras hanya di level Rp 7.300/Kg, jauh lebih rendah dibandingkan HPP sebesar Rp 8.000/Kg.
Ketua Gapoktan Serikutu Parung Priyai, Romidin menjelaskan anjloknya padi dan beras petani sudah menjadi kebiasaan, terlebih saat memasukinya masa panen raya. Anjloknya harga padi dan beras inipun tak dapat dijelaskan faktornya. Namun dirinya pun berharap agar pemerintah dapat menampung dan membeli beras petani sesuai dengan HPP dan diatas harga di pasaran.
“Saat ini harga beras hanya Rp 7.300/Kg padahal HPPnya Rp 8.000/Kg, bahkan harga di pasaran bisa mencapai Rp 9.000/Kg. Yang paling menyedihkan adalah harga padi kering panen yang hanya Rp 3.700/Kg kalau dilihat HPP mencapai Rp 4.000/Kg. Tentu saja dengan kondisi ini membuat petani kami merugi dan tak bisa menutupi biaya produksi,” jelas dia, Rabu (30/3).
Tidak mampunya pemerintah, dalam hal ini Bulog membeli beras petani membuat petani menjual hasil pertaniannya pada tengkulak dengan resiko harga murah. Namun mereka tak memiliki pilihan lain.
“Jualnya keluar, ada yang datang dari Pangkalan Balai, ada juga yang datang langsung dari Lampung untuk membelo beras-beras petani. Yang kami heran, kenapa setiap panen raya, harga selalu anjlok. Padahal petani kami sudah mensiasati dengan tidak menjual seluruh hasil panennya ke tengkulak, tapi tetap tak mempengaruhi harga beras,” bebernya.
Editor: Karnadi








