Harga Karet Anjlok, Pemerintah Harus Bertindak

11.443 dibaca

BANYUASIN, Buanaindonesia.com – Ketua KTNA Banyuasin, Sukardi SP menanggapi anjloknya harga komoditi perkebunan milik petani, meminta agar pemerintah ikut berperan. Mengingat selama ini, harga karet dan sawit berdasarkan harga dunia, sehingga turun-naikknya harga masih bergantung pada pasaran dunia.

Anggota DPRD Banyuasin ini juga menyoroti dengan kualitas karet petani yang rendah, makin memperparah harganya. Untuk itulah dirinya berharap agar petani tidak lagi mencampur karetnya dengan barang-barang yang dilarang sehingga dapat menurunkan kualitasnya.

Advertisement

“Harga karet saat ini sangat rendah, sebab harganya ditentukan pasaran dunia. Karena Indonesia ini masih bergantung dengan negara-negara pengekspor karet, yang hanya bisa menjual karet mentahnya saja. Sehingga nilai jualnya masih rendah dibandingkan jika karet itu sudah menjadi barang jadi. Ditambah lagi, karet petani kita ini kualitasnya rendah, banyak sampahnya,” ungkap Sukardi, belum lama ini.

Kebiasaan petani yang mencampur “kotoran” ke dalan karet yang akan dibekukan itu seharusnya ditinggalkan. Terlebih akan memasukinya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). Tentunya akan makin bersaing dengan negara-negara lain.

“Pemerintah juga seharusnya ikut bertindak, jangan berdiam diri saja. Paling tidak, petani kita tidak lagi hanya menjual karet mentahnya saja. Tetapi harus sudah bisa menghasilkan barang jadinya. Sebab karet dijual dengan harga murah, sementara saat karet itu jadi ban, harganya mahal dan kita sendiri yang menggunakannya,” terang Sukardi yang juga politisi ini.

Sementara itu, harga karet petani saat ini berkisar antara Rp 3.000 hingga Rp 4.000/Kg. Tentu saja harga ini berada ditingkatan petani yang dijual langsung ke tauke karet. Ada perbedaan harga sekitar Rp 1.500 hingga Rp 2.000/Kg jika karet petani dijual ke pabrik karet.

Sayangnya, dengan alasan biaya transportasi yang harus dikeluarkan tak sebanding dengan uang yang didapat, sehingga petani terpaksa menjualnya ke tauke karet. Petani berharap agar pemerintah membangun pabrik karet agar lebih dekat dengan sentra penghasil karet. Mengingat selama ini, karet harus dibawa ke pabrik yang ada di Palembang.

Editor: Karnadi

Bagaimana Menurut Anda?