BUANAINDONESIA.CO.ID MUBA- Menjelang azan Magrib, dapur-dapur di Desa Simpang Bayat mulai sibuk. Aroma cendol dawet dan pempek dengan kuah cuko khas Sumatera Selatan tercium menggoda. Kini, sebagian hidangan berbuka itu dibuat dari tepung mocaf berbahan dasar singkong yang diolah mandiri oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi, kelompok binaan PHE Jambi Merang.
KWT Embun Pagi berada di Dusun Selaro, Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Wilayah ini dikenal sebagai sentra singkong yang ditanam di kebun maupun pekarangan rumah warga. “Panen singkong di sini banyak, tapi harga jualnya hanya sekitar Rp2.000 per kilogram. Kalau hanya dijual mentah, tidak cukup untuk kebutuhan hidup,” ujar Riyanti (45), anggota KWT Embun Pagi.
Perubahan mulai terasa setelah kelompok tersebut mendapatkan pendampingan dalam pengembangan produk mocaf. Produksi yang sebelumnya berjalan sederhana kini diperkuat dari sisi kualitas, standarisasi proses fermentasi, pengeringan, penggilingan, hingga kemasan dan pemasaran. Singkong yang sebelumnya bernilai rendah kini diolah menjadi tepung mocaf (Modified Cassava Flour) dengan harga jual mencapai Rp34.000 per kilogram. Selain mocaf, kelompok ini juga memproduksi eyek-eyek, camilan tradisional berbahan singkong yang renyah.
“Awalnya kami ragu apakah rasanya bisa sama seperti terigu. Ternyata enak, bahkan lebih ringan,” kata Riyanti sambil menunjukkan kemasan produk mocaf yang kini telah berlabel resmi.
Tidak hanya memberikan pelatihan produksi, PHE Jambi Merang juga aktif membantu promosi produk hingga ke berbagai pameran tingkat kabupaten dan provinsi, termasuk Sriwijaya Expo di Palembang. Upaya ini bertujuan memperluas pasar sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi pangan lokal berbasis singkong.
Di bulan Ramadan, kebutuhan bahan pangan berbasis tepung meningkat. Tepung mocaf menjadi alternatif karena bersifat bebas gluten dan lebih mudah dicerna oleh sebagian orang. Untuk menu takjil, mocaf dapat diolah menjadi bakwan dan pisang goreng. Sementara untuk hidangan berbuka, mocaf digunakan dalam pembuatan brownies kukus, bolu pandan, kue lapis, hingga aneka kue kering seperti nastar, kastengel, dan putri salju menjelang Lebaran.
Manager Community Involvement & Development (CID) Regional 1, Iwan Ridwan Faizal, menjelaskan bahwa pengembangan mocaf juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbasis gandum impor.
“Program pemberdayaan masyarakat dirancang agar memberikan manfaat langsung kepada kelompok binaan dan berdampak berkelanjutan pada ekonomi desa. Program ini memberi kesempatan ibu rumah tangga untuk lebih berdaya secara ekonomi sekaligus memperkuat kemandirian pangan lokal,” jelasnya.
Dari singkong yang dulu dipandang sebagai komoditas murah, kini lahir produk mocaf yang tak hanya memperkaya sajian Ramadan, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga di Desa Simpang Bayat, Musi Banyuasin. Program ini menjadi bukti bahwa potensi lokal yang dikelola secara berkelanjutan mampu menjadi sumber harapan dan kemandirian masyarakat









