BANYUASIN, buanaindonesia.com- Hampir Seluruh SD Dikecamatan Sembawa dan Banyuasin III dicat warna kuning. Pantauan media ini, sebelah kiri sepanjang jalan lintas timur KM 21 hingga komplek perkantoran ada sekitar empat gedung SD berwarna kuning. Terpantau Bukan hanya SD yang gedungnya berwarna kuning, diantara gedung-gedung dikomplek perkantoran pun ada salah satu kantor yang gedungnya dicat warna kuning, yaitu Gedung Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin.
Inpormasi yang berhasil dihimpun pelaksanaan pengecetan terhadap gedung-gedung SD dan Dinas Pendidikan tersebut baru dilaksanakan seusai pelaksanaan pemilu kada, yang menurut Keputusan KPUD Banyuasin yang seluruh komisionernya dipecat oleh DKPP (Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu) memenangkan pasangan Yan Anton Perdian dan SA Supriono yang batal dilantik pada tanggal 14 agustus 2013 yang lalu.
Yan Anton Ferdian Dan SA Supriono sebelumnya merupakan pasangan calon Bupati calon Wakil Bupati Banyuasi yang Diusung Partai Golkar. Yan anton sendiri merupakan Ketua Golkar Kabupaten Banyuasin sementara SA Supriono merupakan Kepala Insfektorat Kabupaten Banyuasin
Ketua LSM Tegar, Lukmansyah, saat dimintai keterangannya kemarin membenarkan bahwa akhir-akhir ini pihaknya juga melihat ada beberapa gedung SD disepanjang lintas timur dari KM 21 hingga komplek perkantoran berwarna kuning” kalau dilihat sepertinya cetnya baru semua” ucapnya
Dikatakan Lukman dirinya merasa heran dengan menguningnya gedung-gedung SD paska kemenangan Yan Sas oleh KPUD Banyuasin “Ada apa dengan Diknas Banyuasin, apakah sudah ada koordinasi antara Bupati terpilih dengan Kepala Dinas Banyuasin sehingga SD-SD yang ada di banyuasin di cat kuning, atau mungkin juga itu tanda kemenangan Yan Sas,”katanya.
Tak usah jauh-jauh tegas Lukman, salah satu SD di musilandas dan Pulau Harapan dan Kontor Diknas Banyuasin saat ini sudah dicat warna kuning “apakah jika yang menang bukan Yan-Supriono cat gedung SD-SD tersebut Akan Berubah lagi ” sambungnya
Jika ini yang terjadi menurut Lukman mau jadi apa banyuasin ini, “kenapa sekolahan seolah-olah dijadikan ajang untuk berpolitik” tandasnya sembari geleng-geleng kepala.
Senada juga dikatakan Salah warga Pangkalan Balai yang tidak mau disebutkan namanya berpropesi sebagai tukang ojek, dirinya merasa heran dengan kondisi banyuasin menurut dia gedung SD merupakan benda mati ” Gedung SD itukan benda mati yang tidak mengerti politik, kenapa dibawah-bawah kerana politik,”katanya.
Dijelaskannyua bahwa saat ini Dia sedang mengeluh, karena Saat ini harga karet dan sawit tidak setabil akibatnya penghasilan dari kebun karetnya belum memuaskan untuk kebutuhan sehari-hari. ” Yah dari pada anak dan istri tidak bisa makan terpaksa saya banting stir menjadi tukang ojek dan pencari ikan” keluh Arman.
Dikatakannya bahwa harga karet yang semula bisa mencapai Rp 15000 saat ini hanya berkisaran paling mahal Rp 5000 untuk karet mingguan, begitu juga untuk harga sawit yang semula bisa mencapai Rp 2000 saat ini hanya berkisaran Rp 700 san.
Dilanjutnya, bahwa di Banyuasin tidak banyak pilihan pekerjaan, masyarakat Banyuasin rata-rata merupakan petani karet dan sawit. “Namun berhubung Harga karet sekarang belum stabil.
Jadi saya coba mencari lokak lain, untuk memenuhi kubutuhan hudup sehari-hari yang tambah banyak bae” tambahnya
Diungkapkannya bahwa dirinya dahulu sempat menyuruh orang lain menyadap karet dikebun miliknya dengan cara upahan. Namun berhubung hasilnya tidak memuaskan, dia memilih untuk menyadap sendiri dan hasilnya lumayan, tapi saat ini berhubung tidak setabil jadi kembali tidak memuaskan lagi” kenangnya
Dia berharap harga sawit dan karet secepat bisa stabil. Jika harga karet dan sawit stabi hidup kami, Inysa Allah tidak akan terpuruk.
Beda lagi dengan,
Kipil (45 tukang rumah lebih memilih jadi tukang ojek, disebabkan pesanan pembangunan rumah sekarang lagi sepi. “Ngojek sepertinya lumayan pemasukanya bisa 100/hari dan kadang bisa lebih, bayangkan seputaran Pangkalan Balai saja (bae) Rp.3000,- bahkan bisa lebih tergantung jauh dekatnyalah,” katanya seraya meminta pengertian.
Naiknya ongkos ojek ujarnya, Rp 1000 sampai Rp 2000 lebih disebabkan naiknya harga BBM. “Jadi serba naik,” tuturnya agak girang.
MR X Diduga Jadi Korban Buaya Mukut
BANYUASIN/KS
Warga Desa Mukut Kecamatan Pulau Rimau, Sabtu (24/58) kembali di gegerkan dengan penemuan sesosok mayat tanpa identidas
Mr X ditemukan warga setempat mengapung dialiran sungai mukut, tepatnya disekitar jembatan Tanah Kering yang terkenal angker dan sarangnya buaya ganas mukut Pulau Rimau (Crocodile Mukut Tiger Island).
Kapolsek Pulau Rimau, AKP Amir Jhon kepada saat dihubungi membenarkan adanya penemuan Mr X yang indentiasnya masih teka teki tersebut.
Dikatanya, penemuan terjadi pukul
22.00 WIB pada hari sabtu malam minggu oleh warga yang pulang memancing ikan dialiran sungai mukut tersebut.
“Dari keterangan warga, saat mereka pulang mancing melewati jembatan tanah kering terlihat mayat mengapung dengan bau yang cukup menyengat.
oleh warga, mayat tersebut lalu ditarik kepinggir sungai menggunakan pancing dan upaya mereka berhasil,” ujarnya.
Setelah mayat dipinggirkan lanjut dia, warga langsung melaporkan penemuan MR X ke Mapolsek Pulau Rimau via ponsel dan juga datang langsung kepolsek.
“Mendegar laporan warga, saya bersama Kanit Intel dan Kanitres serta anggota lainya langsung turun kelapangan bersama ambulan dari RSUD Banyuasin guna melakukan evakuasi terhadap mayat tersebut,” bebernya.
lantaran medan tempat kejadian perkara (TKP) cukup sukarang ditaklukan.
Sehingga proses evakuaso sedikit lamban segingga memakan waktu beberapa jam mayat baru berhasil diangkat oleh pihak polisi bersama warga, keatas jembatan Tanah Kering.
“Evakuasi cukup lamban karena posisi mayat dibawah jembatan, namun setelah bahu membahu barulah berhasil kita lakukan pengankatan. Sekitar Pukul 5.30 mayat sampai dipolsek, lalu diberangkatkan ke Palembang. Pukul 07.00 WIB tiba di RSUMH Palembang dan langsung dilakukan otopsi oleh dokter forensik,”. tegasnya.
Amir Jhon mensinyalir, Mr X yang berjenis kelamin laki-laki diduga menjadi korban amukan binatang buas berupa buaya mukut dan bukan korban mutilasi seperti isu yang menyebar dimasyarakat Pulau Rimau saat. Ini.
“Kita duga korban dimangsa buaya dan sudah lama berada dalam air, antara 3 hingga 4 hari lalu karena tidak ada bekas luka sayat pada tubuh korban, yang ada hanya bekas gigitan binatang buas. Kalau dimutilasi, tidak mungkin kaki kiri hilang hingga kebagian pinggang. Kepalanya juga hilang dan hanya gigi pada rahang bawah yang tersisa serta pergelangan kaki kaki kanan putus,” tandasnya.







