BANYUASIN, Buanaindonesia.com- Akibat salah paham, pelajar SMAN 1 Betung harus berurusan dengan pihak kepolisian. Semula Robet bin M Yamin kelas 1 sedang bermain Bola, karena bola keluar lapangan, kemudian Robet minta tolong dengan Opi siswa kelas 2 yang sedang berjalan di pinggiran lapangan Putsal di lahan sekolah SMA tersebut.
Menurut Bahtar Lubis, salah satu guru olahraga di SMA ini yang menyaksikan kejadian, menuturkan bahwa bola tersebut di tendang kedalam lapangan oleh teman Opi, ternyata si Robet langsung membalas tendangan tersebut kemudian mengenai dinding sekolah dan akibatnya bola pantulan diding mengenai wajah Opi. Merasa sakit akibat sambaran bola pantulan tersebut, Opi marah dan langsung mengabil sebuah Batu dengan cara melempar kearah Robet, tak pelak batu tersebut mengenai kepala Robet sehingga terjadi luka Robek sepanjang 10 jahitan, tak lama kemudian Robet mengadukan hal ini kepada kakanya yang bernama Febri kelas 3 SMA yang sama. melihat adiknya yang penuh darah, emosi Febri tak terbendung lagi kemudian Febri memukul Opi.
Melihat hal itu, Bahtar Lubis dan guru lainya berupaya memisah anak-anak ini, namun karena jumlah kami tidak seimbang dengan jumlah siswa yang berkelahi akibatnya kami tidak bisa menghalangi mereka.
Wakil kepala Sekolah bagian Kesiswaan Pandi yang di dampingi wakil kepala Sekolah bagian Kurikulum Herianto, mengaku terjadinya baku hantam siswanya ini melihat emosi yang di keluarakan oleh Febri dan Robet. kita tak mau hal ini berlarut-larut terjadi, oleh karena itu kita minta bantuan pihak kepolisian untuk mengamankan anak-anak ini.
M.Yamin (44) warga Rimba Asam selaku orang tua warga Robet, merasa tidak puas melihat anaknya terluka di kepala dengan luka 10 jahitan, kemudian Robet di bawa ibunya ke palembang untuk diperiksa secara intensif.
Sementara itu, Kapolsek Betung IPTU Ali Rojikin yang di sampaikan IPDA Ery Yusdi, membenarkan kejadian baku hantam siswa SMA Negeri Betung ini, pihak kepolisian telajh mengamankan mereka dan siap memfasilitasi agar mereka berdamai dan tidak berlarut-larut, karena mereka kesemuanya masih status siswa, di SMA yang sama.(bi)








